Catatan Hadi Nur » Blog Archive » Cerita "Robohnya surau kami" ternyata masih relevan

Cerita "Robohnya surau kami" ternyata masih relevan

Saya teringat dengan cerpen “Robohya Surau Kami”, karangan Ali Akbar Navis, yang saya baca ulang diperpustakaan orang tua saya di Padang bulan Agustus 2008 yang lalu — ketika saya berlibur kesana. Kebetulan pak Ali Akbar Navis (almarhum), pengarang cerpen itu, adalah kawan ayah saya. Sayapun pernah diajak ayah saya berkunjung ke rumah pak Navis di Padang. Cerpen itu juga mengingatkan saya untuk lebih mengetahui apa itu ibadah. Cerpen ini juga saya anggap masih relevan saat ini walapun dipublikasikan 52 tahun yang lalu. Apakah ibadah itu hanya sekadar rajin shalat ke mesjid? ataukah lebih daripada itu?

Di bawah ini adalah sinopsis dari cerpennya pak Navis yang saya salin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Robohnya_Surau_Kami:

Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Mesjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun. Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Penasaran untuk baca cerpen lengkapnya? Silahkan download PDF file berikut ini: Robohnya surau kami.

2 Responses to “Cerita "Robohnya surau kami" ternyata masih relevan”

  1. M. Suja'i Anhar says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Salam kenal,
    Saya adalah salah seorang pembaca kompasiana, dan membacara tulisan Bapak. Saya tertarik untuk berdiskusi secara lebih inten dengan Bapak, tentang banyak hal, termasuk bidang agama.

    Terima kasih atas pencerahannya

  2. ela says:

    saya pernah membaca cerpen ini, beberapa tahun yang lalu, waktu SD atau SMP. sayangnya yang masih saya ingat hanyalah nama pengarang dan judul cerpennya, serta kesimpulan bahwa cerpen ini bagus. entah bagus dimananya karena hampir semua isi cerpen ini saya lupa,hehehe… mungkin masih anak-anak waktu itu
    terimakasih pak,menceritakan kembali cerpen ini
    sepertinya sastra Indonesia lama memang harus diperkenalkan lagi kepada anak-anak muda sekarang (hehe..sok tua), selain nilai sastra yang tinggi, banyak hikmah yang bisa diambil dari sana….
    ps. waktu kecil saya sangat senang membaca novel-novel atau kumpulan cerpen sastrawan Indonesia jaman baheula, sayang sekarang buku2nya tak tau dimana rimbanya

Leave a Reply