Catatan Hadi Nur » 2009 » February

Archive for February, 2009

Mengapa menjadi blogger?

Saturday, February 28th, 2009

Siapa itu blogger? Ternyata, menurut pengamatan saya, sebahagian besar blogger adalah orang yang mempunyai pendidikan tinggi — sekurang-kurangnya pernah sekolah diperguruan tinggi.

Mengapa mereka menjadi blogger? Ini beberapa alasannya:

Memang suka menulis — jadi apapun yang diamati dan dirasakannya semuanya ditulis.

Ingin menyampaikan ide-idenya ke khalayak ramai.

Iseng-iseng, karena tidak ada pekerjaan lain — karena pandainya hanya membuat tulisan di blog.

Ingin menuliskan semua pengalaman — dari yang remeh-temeh sampai yang hebat.

Mengisi waktu kosong.

Untuk menjadi ‘gaul’ seperti Dr. Kusmayanto Kardiman, Menteri Riset dan Teknologi, Indonesia.

Sebagai pelarian.

Contoh untuk kategori yang terakhir. Saya memperhatikan ada dosen yang setiap hari ngeblog di publik blog di sebuah koran terkenal di Indonesia yang tulisannya menurut saya tidak bermutu dan hanya untuk ‘main-main’ saja. Ini mungkin karena niatnya sebagai ilmuwan tidak kesampaian. Mengapa? karena dia tidak mampu menghasilkan tulisan ilmiah, yang sebelum diterbitkan harus melalui proses peer-review atau dengan perkataan lain dinilai oleh rekan yang sebidang dengan bidang ilmunya.

Namun saya juga memperhatikan banyak blogger yang ‘profesional’ dalam arti kata semua tulisannya menggugah dan memberikan pengetahuan baru kepada para pembacanya — bukannya hanya sebagai tulisan yang manfaatnya hanya seperti menonton ‘soap opera‘ di televisi.

Namun apapun alasannya, tulisan-tulisan diblog memang disajikan untuk semua orang — tinggal kita memilih mana yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Jadilah ‘positif blogger!’

Nah, apa sih alasan saya menulis blog (ini)? Kalau ingin tahu, silahkan email saya.

Jaringan sosial seperti Facebook dapat menyebabkan penyakit

Sunday, February 22nd, 2009

Bermain dengan Facebook dapat menyebabkan kanker, apa iya? Kenyataan ini adalah pernyataan dari artikel yang ditulis oleh Aric Sigman yang dipublikasikan di Magazine Biologist. Coba anda bayangkan hal seperti ini: Anda akan merasa ganjil ketika anda berhenti tertawa ketika menyadari orang yang sedang berbicara dengan anda tidak melawak. Dalam jaringan sosial seperti Facebook hal ini mungkin terjadi, karena tidak ada interaksi tatap muka. Hal inilah yang dianalisis oleh Aric Sigman sebagai penyebab ‘penyakit’ — bahkan dapat menyebabkan kanker. Percayakah anda?

Silahkan baca artikel lengkapnya yang berjudul Well connected? The biological implications of ‘social networking’ dalam format PDF (234 Kb).

Kunjungan ke Dr. Fasli Jalal dan Universitas Indonesia

Saturday, February 14th, 2009

Sebagai Manager of International Affairs for Indonesia di UTM, saya telah ditugaskan oleh universitas untuk meningkatkan kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Langkah awal adalah dengan melakukan kunjungan kepada Dr. Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia di Jakarta. Setelah dihubungi, Dr. Fasli Jalal telah menyatakan bersedia menerima delegasi dari UTM yang terdiri dari Prof. Dr. Siti Hamisah Tapsir (Timbalan Naib Canselor – Akademik dan Antarabangsa), Prof. Dr. Ahmad Kamal Idris (Pengarah Pemasaran), Hj. Wan Zawawi Wan Abdul Rahman (Pendaftar), Prof. Madya Ismail Abdul Aziz (Timbalan Pengarah Hal Ehwal Antarabangsa), Khairull Azmi (Penolong Pendaftar) dan saya sendiri pada 9 Februari 2009. Di bawah ini adalah catatan kecil dari kunjungan kami ke Jakarta.

Minggu, 8 Februari 2009
Dengan menggunakan MAS kami berangkat dari Johor Bahru ke KLIA, Kuala Lumpur. Kami sampai di lapangan terbang Sukarno-Hatta sore hari dan dijemput oleh uda Muchlis Muchtar (sepupu saya yang tinggal di Jakarta). Uda Ulih (demikian saya memanggil uda Muchlis) telah menyediakan Toyota Kijang beserta supir untuk disewa selama kunjungan kami ke Jakarta. Sesampai di Hotel Century Atlet, Senayan, rupanya terdapat sedikit masalah ketika keluar dari imigrasi, ransel Dr. Ismail tertinggal di pintu keluar imigrasi ketika di scan dengan x-ray. Untung, dengan bantuan uda Ulih, ransel yang berisi komputer tersebut dapat diambil kembali pada malam harinya. Kami di bawa oleh uda Ulih makan malam. Kawan-kawan dari UTM juga sangat menikmati makan malam di restoran minang Sari Indah.

Senin, 9 Februari 2009
Pagi hari, kami mengadakan rapat di hotel untuk membicarakan program yang telah saya susun, yang disebut sebagai ‘Indonesia Scholar-in Resident Program (ISRP) at Universiti Teknologi Teknologi Malaysia’. Jam 10 pagi, kami diterima oleh Dr. Fali Jalal, di Crown Plaza Hotel. Beliau menerima akami disana karena beliau ada rapat selama satu hari dengan World Bank. Kami telah disambut dengan ramah oleh Dr. Fasli Jalal. Beliau langsung menerangkan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) sedang mempertimbangkan untuk mengakreditasi semua program studi di UTM. Akreditasi ini penting kerana lulusan UTM yang berasal daripada Indonesia layak dipertimbangkan untuk diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia. Beliau juga menceritakan perkembangan tentang pemberian beasiswa untuk program pasca sarjana ke luar negeri oleh DIKTI. Sudah ribuan beasiswa diberikan, untuk ke Malaysia sampai ke MIT di Amerika Serikat. Beliau juga sangat bersetuju dan mendukung ‘Indonesia Scholar-in Resident Program (ISRP) at Universiti Teknologi Teknologi Malaysia’ yang kami usulkan.

Dr. Fasli Jalal seterusnya diberi penjelasan mengenai peluang dosen-dosen Indonesia untuk datang ke UTM di bawah ‘Indonesia Scholar-in-Residence Program at Universiti Teknologi Malaysia’. Dr. Fasli Jalal setuju untuk menyertai program ini karena akan menguntungkan kedua belah pihak, UTM dan universitas-universitas di Indonesia. Program ini juga akan dipromosikan keseluruh universitas di Indonesia melalui Direktorat Pengajian Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Indonesia.

Kunjungan ke Universitas Indonesia pada siang hari petang juga disertai oleh Prof. Ir. Dr. Azhar Dato’ Abdul Aziz (Dekan Fakulti Kejuruteraan Mekanikal, UTM) dan Prof. Dr. Megat Mohd. Ghazali Megat Abdul Rahman (Timbalan Dekan Penyelidikan dan Pengajian Siswazah – Fakulti Kejuruteraan dan Sains Geoinformasi, UTM). Delegasi UTM disambut oleh Dr. Ir Muhammad Anis, M.Met., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, di bangunan rektorat Universitas Indonesia (UI). Beliau didampingi oleh Dekan Fakultas Teknik, Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiharto dan beberapa staf daripada Office of International Affairs dan dosen-dosen dari beberapa fakultas di UI.

Dr. Muhammad Anis membuka perbincangan dengan memberikan penjelasan bahaw kerjasama di antara Universitas Indonesia (UI) dan UTM telah berlangsung lama. Beberapa orang pensyarah UI telah dikirim ke UTM untuk melanjutkan studi MSc dan PhD di awal tahun 1990-an. Saya juga bertemu dengan Dr. Azhar, kawan lama diruang pertemuan, yang dulu sama-sama mengambil PhD di UTM. Kerjasama dalam bidang penelitian dan pengajaran masih belum terlaksana sampai saat ini walaupun Memorandum of Understanding (MoU) diantara kedua universitas telah ditandatangani sejak lama. Pihak Universitas Indonesia dan UTM telah bersetuju untuk melihat kembali MoU yang telah ditandatangani dan akan menyambung semula MoU tersebut jika telah mati.

Pihak Universitas Indonesia juga telah diberi penjelasan mengenai ‘Indonesia Scholar-in-Residence Program at Universiti Teknologi Malaysia’ . Program ini telah mendapat sambutan yang positif dari pihak Universitas Indonesia. Dekan Fakultas Teknik UI, Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiharto dan Dekan Fakulti Kejuruteraan Mekanikal UTM, Prof. Ir. Dr. Azhar Dato’ Abdul Aziz merupakan pihak yang telah dipersetujui oleh kedua belah pihak untuk memulai aktivitas-aktivitas kerjasama, baik dalam pengiriman staf dari UI maupun kerjasama-kerjasama dalam bidang penelitian diantara kedua Fakulti.

Setelah dari kunjungan ke UI, kami shoppping di Blok M. Sewaktu di Blok M, tiba-tiba Dr. Fasli Jalal mengirimkan SMS kepada saya mengatakan beliau sedang rapat dengan profesor-profesor ITB termasuk dengan Prof. Sujana Sapiie, bekas rektor ITB akhir tahun 1970-an. Namun karena sudah terlalu sore, kami tidak sempat memenuhi undangan Dr. Fasli Jalal. Malam hari, kami diundang uda Ulih makan sate madura di rumah beliau.

Selasa, 10 Februari 2009
Kami sampai dengan selamat di Johor Bahru setelah transit di KLIA.

Membumikan universitas

Friday, February 6th, 2009

“…the mission of university and its commitment are to the present and future generations, safeguarding the prosperity and welfare of the world with the best in education and scientific research. Not just for ’superficial’ ranking.”

Kalimat di atas mungkin adalah misi dan tujuan ideal universitas didirikan. Mau tidak mau harus demikian adanya. Namun kadang-kadang tujuan itu telah keluar jalur karena tekanan terhadap universitas sebagai ‘barang ekonomi’ yang juga harus laku ‘dipasaran’. Membaca ceramah Prof. Wiranto Arismunandar (mantan rektor ITB) ketika memberikan ceramah dalam diskusi akbar mendongkrak world rank ITB di Aula Timur ITB pada 10 Mei 2008, saya menjadi ‘tersentuh’ dengan kearifan berpikir Prof. Wiranto — yang membuat saya keluar dari belenggu ‘kepanikan’ dan ‘keperluan’ sebuah universitas masuk dalam world ranking. Makalah lengkap beliau dapat diakses di sini. Ini adalah petikan dari paragraf pertama dari makalah beliau:

Keinginan dan cita-cita menjadi World Class University (WCU) sangatlah mulia, tetapi hendaknya tidak membuat kita risau, panik, seolah-olah itu yang paling penting dan menjadi taruhan. Kita boleh risau jika ITB dianggap tidak diperlukan, tidak bermanfaat dan tidak mengabdi pada pembangunan bangsa Indonesia. Mereka yang membuat ranking WCU pasti memiliki maksud dan rencana tertentu serta tidak terlepas dari berbagai kepentingan, dan karena itu, tidak perlu dirisaukan. Bisnis, penerimaan mahasiswa baru, politik, sosial, ekonomi, dan berbagai kepentingan lain, boleh jadi merupakan beberapa di antara banyak alasan yang melandasi pemikiran tersebut. Hendaknya isu tersebut tidak membuat kita cemas dan lemah, terperangkap dan terbelenggu. ITB hendakya terlebih dahulu berguna dan berjasa bagi pembangunan masyarakat bangsa Indonesia dan ikutserta menyelesaikan masalah bangsa. ITB hendaknya menjadikan dirinya andalan dan kekuatan bangsa yang harus mengatasi berbagai tantangan, supaya menjadi bangsa yang sejahtera, terhormat dan mandiri. ITB hendaknya menjadi kebanggaan serta menjaga kehormatan bangsa Indonesia. Itulah sebabnya kita harus lebih bersungguh-sungguh dan fokus dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita masing-masing. Dengan demikian dapat diperoleh hasil yang lebih baik serta melakukan penyempurnaan dan perbaikan secara berkelanjutan (continuous improvement). Dalam hal tersebut hendaknya melekat rasa dan semangat kebangsaan yang tinggi supaya kita makin menyadari bahwa ada misi yang diemban, yaitu membangun bangsa yang kuat dan mandiri. Jika kemudian ITB mendapatkan pengakuan dan penghargaan sebagai WCU, maka bersyukurlah dan lebih bersemangat memberikan pengabdian yang terbaik kepada bangsa yang kita cintai ini. Janganlah kita sekadar berambisi mencapai ranking yang tinggi, tetapi tidak bermanfaat dan tidak berbuat apa pun bagi pembangunan nusa dan bangsa Indonesia.

Apa yang dapat saya simpulkan dari pemikiran Prof. Wiranto adalah; adalah lebih penting untuk ‘membumikan universitas’, karena yang diperlukan oleh masyarakat dan bangsa adalah manfaat dari universitas tersebut.

Realitas dan harapan yang selangit

Sunday, February 1st, 2009

Beberapa hari yang lalu saya membaca di surat kabar ucapan seorang rektor sebuah perguruan tinggi (kecil) di Malaysia yang mengatakan bahwa bukan mustahil universitas yang dipimpinnya menghasilkan penerima hadiah Nobel — (hmm.. berapa persen kemungkinannya? apakah 10% ataukah 0.000000000001%?) Beliau mengatakan bahwa ukuran (kecil) bukan menjadi halangan untuk menghasilkan penerima hadiah Nobel seperti yang telah dilakukan oleh California Institute of Technology (Caltech). Namun beliau lupa akan dua hal: pendanaan dan juga publikasi ilmiah (yang ujung-ujungnya juga bermuara dengan dengan budaya ilmiah). Bagi hal yang terakhir ini, di bawah ini adalah artikel menarik yang menyatakan bahwa Google’s PageRank dapat memprediksikan seseorang itu mempunyai peluang mendapatkan Nobel atau tidak dari publikasi ilmiahnya. Terdapat korelasi yang kuat antara publikasi ilmiah dengan kemungkinan seseorang tersebut mendapatkan hadiah Nobel.

How Google’s PageRank predicts Nobel Prize winners

“The pattern of citations between scientific papers forms a network that has remarkable similarities to the network formed by the web. So why not use Google’s PageRank, the world’s most effective search algorithm to rank these papers in the same way it ranks websites? That’s exactly what a couple of US researchers have done for physics papers published by the American Physical Society since 1893 (abstract). The results make interesting reading because almost all of the top ten papers resulted in (or were linked to) Nobel Prizes for their authors. Which means that studying the up-and-coming entries on the list ought to be a good way of predicting future winners. Better get your bets in before the bookies get wind of this.”

Artikel lengkapnya dapat dibaca di http://arxivblog.com/?p=1123

Mendapatkan citation lebih dari 100 saja luar biasa susah, apalagi sampai 1000 — (karena setahu saya tidak satupun saintis dirantau ini yang salah satu publikasinya mempunyai citation lebih daripada 1000). Bagaimanapun, walaupun cara ini banyak kelemahannya, setidak-setidaknya kita harus sadar bahwa untuk mencapai excellence itu tidak semudah yang dibayangkan — kita harus bercermin kepada kemampuan kita dan mempertanyakan “apakah kita sudah mampu (atau siap kearah itu) untuk mencapainya?”. Agaknya kita perlu menyesuaikan antara realitas dan harapan (yang selangit). Kalau tidak — hanya menjadi impian kosong saja.