Catatan Hadi Nur » 2010 » June

Archive for June, 2010

Kaderisasi dan promosi

Monday, June 28th, 2010

Baru saja saya membaca harian Kompas yang terbit hari ini: “Harian Kompas kembali memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan berdedikasi”. Salah satu penghargaan diberikan kepada Prof. Bambang Hidayat, Kepala Observatorium Bosscha ITB di Lembang selama 31 tahun. Kemudian dari artikel yang saya baca di harian Kompas tersebut ada komentar dari pembaca “.…bertahun-tahun hanya satu-satunya profesor di jurusan Astronomi ITB. Pengkaderan yang buruk dari Bambang Hidayat…“.

Saya rasa di luar kemampuan beliau dalam bidang akademik yang memang boleh dibanggakan, beliau  gagal dalam mendidik dan mengkader dosen-dosen muda di jurusan astronomi ITB untuk menjadi profesor seperti beliau. Setahu saya, sampai beliau pensiun tahun 2004, tidak ada lagi profesor selain beliau yang di jurusan astronomi ITB, padahal banyak dosen-dosen muda yang cukup potensial. Jika pada waktu itu tidak layak, tentu perlu dibantu dan didorong untuk mencapai syarat-syarat menjadi profesor.

Tulisan ini mungkin bisa menjadi refleksi bahwa tujuan menjadi seorang dosen tidaklah semata-mata menjadi peneliti, tetapi juga sebagai pendidik. Bukan saja mendidik mahasiswa, tetapi juga melakukan kaderisasi dalam bidang ilmu.

Kecerdasan spiritual, Key Performance Indicator yang dilupakan

Sunday, June 27th, 2010

kecerdasanKPI atau Key Performance Indicator adalah alat yang digunakan untuk pengukuran kuantitatif, yang digunakan sebagai alat penentu keberhasilan suatu organisasi. Sebagai contoh, dalam bisnis, persentase pendapatan yang berasal dari pelanggan dapat merupakan sebuah Key Performance Indicator. Di sekolah menengah, tingkat kelulusan siswa dapat dipakai sebagai Key Performance Indicator. Di universitas, jumlah publikasi ilmiah, perbandingan jumlah dosen yang mempunyai PhD dengan mahasiswa dapat digunakan sebagai Key Performance Indicator.

Dalam tingkat individual, dalam kehidupan, juga ada cara mengukur kemampuan seseorang dengan apa yang disebut sebagai:
- Intelligence Quotient (IQ), yang digunakan untuk memecahkan masalah logis.
- Emotional Quotient (EQ), yang digunakan untuk menilai situasi disekeliling kita untuk berperilaku secara tepat.
- Spiritual Quotioent (SQ), yang memungkinkan kita untuk mempertimbangkan dan bertanya apakah kita ingin berada dalam suatu keadaan atau situasi yang akan kita hadapi, secara spiritual.

Ketika kita menghadapi kesulitan, IQ bersandar pada kekuatan kita mengatasi masalah dengan kemampuan analitis; EQ bersandar pada kekuatan dan keberanian emosional kita serta kepercayaan diri; sedangkan SQ bersandar pada “kekuatan yang tidak terbatas”. Bagi orang yang beragama, kekuatan ini dapat disebut sebagai “keimanan”. Konsep SQ diperkenalkan oleh Dana Zohar dan Ian Marshall sebagai salah satu dimensi baru kecerdasan manusia, yang mereka klaim sebagai kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia.

Berdasarkan keterangan di atas, melihat KPI-KPI yang ada dalam organisasi kita, apakah kita pernah berpikir “Apakah pekerjaan yang telah saya jalani telah memenuhi kebutuhan spiritual saya?”, “Apakah hubungan saya dengan orang-orang dalam organisasi dimana saya bekerja telah telah memberikan kebahagiaan kepada saya dan juga kepada mereka?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan hanya mengandalkan IQ dan EQ saja. Kita perlu SQ yang tinggi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena SQ yang tinggi diperlukan untuk mencapai kebahagiaan, ketenangan, harga diri yang baik, dan hubungan harmonis di antara manusia.

Apakah kita pernah memikirkan hal di atas untuk kehidupan organisasi kita?

Uang atau status?

Saturday, June 19th, 2010

“New studies show that money and social values are processed in the same brain region, providing insight into how we make choices”

Seorang Guru Besar/Profesor di Universitas Indonesia yang selalu bersepeda bukannya menggunakan mobil mewah ke kampus. Mana yang menjadi simbol status, mobil atau gelar?

Seorang Guru Besar/Profesor di Universitas Indonesia yang selalu menggunakan sepeda bukannya menggunakan mobil mewah ke kampus. Mana yang menjadi simbol status, mobil atau gelar?

Pernyataan dan foto di atas mempunyai makna yang dalam mengenai cara kita memandang harta dan juga status sosial. Saya melihat dunia (pendidikan) sekarang ini lebih mementingkan kebendaan dan status simbol dibandingkan dengan moral. Kadang-kadang kita lupa bahwa tujuan kita mendirikan universitas adalah untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai ilmu dan juga bermoral. Kita lupa makna dari kata “pendidikan tinggi”, lupa dengan tujuan kita mendidik mahasiswa supaya mempunyai moral integrity yang baik. Kita lebih banyak menggunakan “cosmetics“, yang hanya membuat kita cantik dan gagah kalau dilihat dari “luar”.

Kekuatan ide dalam penelitian

Saturday, June 12th, 2010

Dalam penelitian, peralatan adalah faktor yang openting dalam keberhasilan penelitian, namun, menurut saya, ide adalah faktor yang paling menentukan apakah penelitian tersebut mempunyai impak atau tidak. Saya selalu memberitahu mahasiswa saya bahwa saintis tersebut adalah ‘problem seeker‘, bukan ‘probelem solver‘. Di bawah ini adalah publikasi yang pernah saya terbitkan sewaktu saya melakukan postdoc di Hokkaido University. Kekuatan idelah yang membuat penelitian tersebut dapat dipublikasikan di jurnal yang bergengsi. Penelitian dalam bidang katalisis ini hanya menggunakan Gas Chromatography sebagai satu-satu teknik analisis. Ini membuktikan bahwa kekuatan dari manuskrip ini adalah dari ide yang dikemukakan. Kami mengusulkan konsep baru dari katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase Boundary Catalysis‘.

Dalam pendidikan, proses lebih penting dibandingkan hasil

Saturday, June 12th, 2010

Judul di atas sangat jelas pesannya. Pesan tersebut juga disampaikan oleh kolega saya, profesor dari Jepang, profesor senior yang akan pensiun 2 tahun lagi di Osaka University. Beliau mengamati bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai dalam pendidikan tinggi. Sekarang universitas lebih cenderung untuk mencapai tujuan ’semu’ yang sifatnya hanya tujuan ‘kosmetik’, seperti ingin terkenal, ingin masuk ranking, yang untuk mencapai tujuan tersebut banyak meninggalkan nilai-nilai ‘hakiki’ pendidikan. Beliau mengatakan, ketika beliau dulu menyelesaikan PhD di Osaka University pada tahun 70-an, pembimbing beliau hanya mengatakan — “lakukanlah penelitian dengan cara yang baik (good work), karena ini lebih penting daripada hasil penelitian itu sendiri”. Dengan kata lain “proses” jauh lebih penting daripada “hasil”.

Saya menemukan laporan yang menarik, bagaimana cara menilai “proses” dalam pendidikan tinggi: “Criteria for Performance Excellence” yang diformulasikan oleh Baldrige National Quality Program Education, pemerintah Amerika Serikat. Silahkan lihat kriterianya di bawah ini. Salah satu kriteria yang penting adalah ‘ethics‘, faktor yang banyak dilupakan oleh pendidikan tinggi, baik di Indonesia maupun di Malaysia.

Please click the following picture to download the file [3.41 MB]

baldrige

Internet dan akibatnya

Tuesday, June 8th, 2010

Artikel ini saya foto dengan menggunakan handphone ketika terbang dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur. Apa yang menarik adalah, ternyata kebiasaan berinternet dapat merusak cara kita berpikir. Silahkan klik gambar untuk memperbesar artikel tersebut.

Dalam analisisnya, Nicholas Carr — orang yang mengusulkan hubungan antara berinternet dengan cara berpikir — mengatakan bahwa orang yang dipengaruhi oleh internet sukar untuk berpikir secara mendalam. Namun, orang ini dapat mengambil keputusan dengan cepat, dikarenakan informasi yang banyak dapat secara cepat didapatkan, walaupun keputusan tersebut tidak dipikirkan secara mendalam.