Perspektif mengenai kesuksesan
Sunday, January 16th, 2011Saya terkesan dengan artikel yang ditulis oleh Prof. Tan Sri Dato’ Dzulkifli Abdul Razak, Naib Canselor Universiti Sains Malaysia yang berjudul “Perspective: Impact, not impact factor” di New Straits Times pada 1 Januari 2011. Artikel tersebut ditulis atas dipilihnya untuk pertama kali tiga Profesor ulung (distinguished professor) di Malaysia; Profesor Tan Sri Mohd Kamal Hassan, Profesor Datuk Shamsul Amri Baharuddin dan Profesor Lai-Meng Looi. Dalam tulisannya beliau mengatakan bahwa pemilihan Profesor ulung ini tidak hanya berdasarkan angka-angka biasa dan indikator nyata biasanya terkait dengan kesuksesan ilmiah (seperti jumlah penerbitan, paten atau jumlah geran penyelidikan) — tetapi didasarkan kepada ketokohan dan kepemimpinan mereka dalam bidang intelektual. Yang paling penting lagi adalah, tokoh-tokoh ini dapat dijadikan panutan dari segi integritas keilmuwan dan juga kepribadian.
Dua hari yang lalu saya berbincang-bincang dengen kolega saya; Dr. Jon Efendi sehabis jam kantor mengenai apa itu ‘kesuksesan’: Kesuksesan dalam hidup. Kesuksesan yang menjadi manfaat bagi masyarakat banyak. Beliau memberikan contoh seseorang yang dinilai sukses dalam kepemimpinan intelektual, sehingga disegani oleh orang lain. Profesor Isjrin Noerdin, bekas dekan FMIPA ITB pada awal tahun 60-an dan rektor IKIP Padang pada tahun 1965-1973 adalah orang yang beliau maksudkan. Dr. Jon mengatakan, Prof. Isjrin masih menjadi pembicaraan sampai saat ini. Banyak yang membandingkan kepemimpinan beliau yang begitu cemerlang membawa institusi yang beliau pimpin menjadi institusi yang disegani dengan keadaan zaman sekarang, dan biasanya awal kalimat yang keluar dari mulut orang tersebut adalah “ketika zaman Prof. Isjrin… ” dan dilanjutkan dengan cerita bagaimana Prof. Isjrin bertindak dan membuat kebijakan. Prof. Isjrin mungkin tidak mempunyai ‘impact factor‘, tetapi kehadiran dan hasil kerja beliau telah memberikan ‘impact‘ yang positif kepada universitas dan pembangunan pendidikan tinggi di Sumatera Barat.



KPI atau Key Performance Indicator adalah alat yang digunakan untuk pengukuran kuantitatif, yang digunakan sebagai alat penentu keberhasilan suatu organisasi. Sebagai contoh, dalam bisnis, persentase pendapatan yang berasal dari pelanggan dapat merupakan sebuah Key Performance Indicator. Di sekolah menengah, tingkat kelulusan siswa dapat dipakai sebagai Key Performance Indicator. Di universitas, jumlah publikasi ilmiah, perbandingan jumlah dosen yang mempunyai PhD dengan mahasiswa dapat digunakan sebagai Key Performance Indicator.
I know some people who are considered successful in their career. People who are good at playing their cards in finding opportunities to succeed and be famous. People are very egocentric and self-centered. Always working hard to achieve something and is always looking ways to promote themselves, anywhere and anytime. Sometimes promote excessively their work. Although all these achievements are not ‘great’, but they know how to update and sell their achievements.
That’s life, are the words that came out from our mouth when we are facing with the problem. Depending on how we deal with the problem, we can assume that the problem of life is actually a ‘game of life’. The game of life can be considered seriously or just as a game. So, the key is, if we see everything is a heavy burden, it would be difficult to handle. But if you look at them as a light burden, then, they become easy to handle – like the above funny cartoon which I found in the internet.