Bila peraturan berubah

Peraturan dibuat, sebenarnya untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik dan teratur. Tetapi kalau sebaliknya terjadi, kita mau salahkan siapa?

Saya ingin menangis waktu itu, mau protes tidak bisa, karena orang-orang lain pun sama, mereka dan saya cuma bisa mengomel antar sesama.

Sudah menjadi kebiasaan menjelang tahun ajaran baru, di sekolah anak saya ada penjualan buku. Biasanya sebelum ada peraturan, kami para orang tua, mengambil buku apa yang mau dibeli sesudah itu menemui wali kelas masing-masing untuk pembayaran. Disitu wali kelas akan tahu, mana buku yang kita ambil dan bila belum ada bisa dipesan nanti, dan akan diberikan kepada anak pada saat sekolah nanti. Karena stok buku biasanya sedikit, jadi orang tua akan datang lebih awal agar buku anak-anaknya bisa terbeli dengan komplit. Istilah siapa cepat itu yang dapat terasa fair buat saya, karena siapa yang lebih dulu datang akan mendapatkan buku seperti yang diinginkan, walaupun harus antri saat pembayaran. Tidak masalah karena apa yang dicari sudah dapat.

Pada tanggal 27 Desember kemarin, penjualan buku di sekolah anak-anak saya dimulai. Awal pagi sebelum pukul 8, saya dan ketiga anak saya didrop suami saya di sekolah, suami saya tidak bisa ikut karena ada seminar, pukul 11 nanti baru dia akan mengambil kami kembali. Sudah ramai juga para orang tua yang datang. Begitu masuk ke pintu gerbang, disana tertulis pengumuman yang berupa peraturan dengan spidol merah. Diwajibkan kepada para orang tua yang membeli buku : 1. mendaftarkan anak kita lalu mengambil no panggilan, 2. melakukan pembayaran sekalian order buku, 3 mengambil buku.

Waktu itu saya mendapat no.216, wah lama pikir saya, tapi antrian belum panjang lagi, juru uang cuma ada 4 orang. Kenapa ada nomor panggilan tapi antri juga. karena anak saya yang kecil rewel, saya keluar dari antrian. Lalu saya menuju ke tempat pembelian buku anak saya yang lain, di tempat itu juga tetapi di sekolah menengahnya. Alhamdulillah kosong, saya langsung bisa mendapatkan semua buku dan seragam sekolah sekali. Kembali ke tempat tadi, ke tempat anak saya yang sekolah dasar. Ya ampun…sudah berdesak-desakan, tidak bisa bergerak. Kok bisa? lalu saya tanya bagaimana dengan nomor panggilan? katanya tidak berlaku lagi. Kalau tahu begini tadi saya terus antri saja . Saya bertemu dengan kawan saya, dia keluar antrian dengan wajah tersenyum. “Sudah siap?” tanya saya. “Sudah”. Sambil menunjukkan tas yang berisi buku di dalamnya. “Lho bukannya kita harus bayar dulu?” tanya saya penasaran. ” Enggak tuh, orang-orang pada ngambil dulu, tadi berebutan, cepat bu, nanti habis!” Tanpa menunggu lagi, saya pun pergi ke tempat pengambilan buku, sampai disana apa yang saya lihat? Meja kosong, buku sudah habissss. Dapat dibayangkan perasaan saya saat itu. campur aduk, antara ingin marah dan menangis. Anak saya yang kasihan. Adek gak dapat buku satu pun padahal kita datang dari pagi. Lalu kenapa peraturan itu dibuat seperti itu kalau akhirnya tidak dipatuhi. Kasihan yang betul-betul mengikuti peraturan, antri bayar dulu, ketika mengambil buku sudah habis. Akhirnya harus order pending. Dan pulang dengan tangan kosong.

Sekiranya koperasi tidak ada dana untuk pengadaan stok buku, saran saya, jauh-jauh hari sebelum penjualan buku, orang tua order buku sekalian membayarnya, jadi pada saatnya nanti buku tinggal ambil saja tidak usah berebut, tidak usah antri. Kasihan yang jauh datang pagi-pagi pulang dengan tangan kosong. Saya betul-betul kecewa, apalagi ada bawa anak kecil, yang tidak sabar menunggu.

Akhirnya saya pergi ke koperasi, meluahkan perasaan saya, sekalian order dan bayar buku, tidak peduli peraturan lagi, terserah mau diambil kapan saja, yang penting hari ini pekerjaan saya harus selesai. Suami saya datang, dialah yang menjadi tumpuan keluh kesah saya. Sabar ya bu….


Leave a Reply