I'm sorry, goodbye….
Rumah saya di Taman Sripulai Johor ini, dekat dengan pertokoan atau kedai-kedai. Tinggal berjalan saja ke depan, menyebrang jalan sampai deh di pertokoan. Berderet toko-toko di sepanjang jalan, berbagai jenis dagangan, ada kedai runcit (kelontong), kedai sepatu, restoran, kedai kek, kedai sepeda, salon, kedai besi, kedai telekomunikasi sampai bengkel mobil dan motor. Senang sih kalau ada keperluan mendadak, tinggal berjalan dapat langsung. Dibandingkan dengan teman-teman saya yang tinggal di dalam kampus, susah mencari barang, harus keluar kampus, minimal pakai motor atau mobil karena jaraknya yang lumayan jauh.
Lima tahun saya tinggal di perumahan ini, saya perhatikan pemilik kedai yang bertahan adalah orang cina. Kedai melayu satu sampai dua tahun sudah ganti lagi pemiliknya. Yang bisa bertahan hanya 2 atau 3 saja dari begitu banyaknya kedai yaitu restoran dan kedai buku serta alat-alat menjahit, yang lainnya tutup ganti kedai lain malahan kedai-kedai cina diperluas menjadi 2 atau 3 kedai. Padahal di tempat saya ini ramai orang melayu. Biasanya orang melayu lebih senang belanja ke tempai melayu lagi. Termasuk saya he..he. Awalnya ketika kedai melayu buka ramai pengunjung sesudah itu menyepi. Lain halnya dengan kedai cina yang makin lama pelanggannya semakin ramai saja.
Seharusnya menjadi pelajaran, kenapa kedai melayu bisa kalah dengan kedai cina. Tentunya harus mempunyai ilmu berbisnis, atau paling tidak mencontoh kenapa kedai cina bisa maju. Soal modal yang kuat bisa menyusul yang penting ada pelanggan dulu. Kalau tidak ada pelanggan atau pelanggan lari buat apa modal besar juga kan tetap saja tidak laku.
Yang paling penting diingat kalau perlu digarisbawahi, bahwa pembeli ialah raja. Kita harus melayan pembeli sebaik mungkin, seramah mungkin, tahu keinginan pembeli seperti apa? pasti kedai akan ramai apalagi kalau harga lebih murah dibanding kedai-kedai lain. Biar dulu untung sedikit yang penting ada pelanggan.
Ini pengalaman saya kenapa saya berpaling ke kedai cina, di kedai melayu yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, pertama kita datang mereka cuek saja, tidak ada say hello ke, padahal kita sering ke kedai itu, kalau ke kedai cina pasti bos atau pegawainya menyapa, “hallo kak, mana anak tak dibawa?” Barang-barang dagangan seperti sayur, cabe dan lain-lain, di kedai melayu, sayur yang sisa-sisa kemarin dipajang dulu, yang baru disimpan, kalau kita tanya tak ada yang baru ke? baru dikeluarkan lain halnya di kedai cina, sayur-sayur segar yang baru itu yang dipajang, sisa-sisa kemarin di jual murah, kadang-kadang dikasih begitu saja. kemudian servise, kalau kita mau potong ayam atau bersihkan ikan, di kedai melayu lama sekali, kalau pekerjanya sibuk, bos atau tokek diam saja. tapi di kedai cina cepat, kalau pekerja sibuk, bos nya sendiri yang potong ayam atau bersihkan ikan. Dari harga-hargapun kedai melayu mahal-mahal, contoh kecap ABC di kedai melayu RM 6, di kedai cina RM 5.50. Coba kalau begitu pilih yang mana? Yang membuat saya sakit hati, waktu itu saya mau beli kelapa parut, pergi ke kedai melayu, kebetulan pegawai di kedai itu sedang parut kelapa pakai mesin, saya minta satu tapi yang putihnya saja buat bikin kue, pegawai itu kasih saya setengah yang sudah dibungkus, saya bilang saya mau satu, eeh ..malah dia bilang begini,”Nanti sajalah kak, saya mau potong ayam dan bersihkan ikan dulu.” Lho…kegiatan memarutnya dia stop lalu mengambil ikan. Lalu saya bilang lagi, “Tak apelah saya bisa pergi kedai lain,” kesal saya dibuatnya dan lihat saja besok-besok saya tidak akan datang lagi, I’m sorry, goodbye deh.
Ini lain lagi, waktu hari ahad kemarin, tanggal 27 januari, saya mengantar Farid pergi latihan memanah di skudai parade, karena perginya siang-siang, saya tidak sempat menyiapkan makan siang di rumah, jadi akhirnya beli saja. Kami, saya, bapak Ad dan Firda makan di restoran cina yang halal di mall itu, kalau Farid belum makan karena dia latihan. Setelah selesai latihan kira-kira jam 3 an, saya tawarkan Farid makan di mall itu tidak mau, ya sudah di dekat rumah saja ada restoran melayu di ujung jalan, saya belum pernah beli ke situ, itu pun karena yang lain tutup. Farid memesan satu porsi daging paprik, dibungkus karena mau makan di rumah, ditunggu lama sekali, kok belum-belum juga. Ada orang yang baru datang, pesan nasi goreng dan makan disana, sudah dapat makanannya. ini sudah hampir 1 jam. Si Farid sudah lemas kelaparan, akhirnya saya minta tolong bapaknya untuk menanyakan makanannya, saya tidak bisa karena menggendong Fahima yang tertidur. Rupanya setelah ditanya belum dimasak lagi. Ya ampun sudah batalkan saja, akhirnya Farid pulang dengan lemas saya buatkan mie sedap saja di rumah pakai telur, karena pukul 5 harus taekwondo. Penjual itu tidak tahu apa? Anak kecil yang membeli kok tidak diprioritaskan, itulah salah satu kelemahannya dan saya pun bilang I’m sorry, goodbye.. tidak akan datang lagi. Dan masih banyak lagi cerita-cerita heboh yang membuat saya bilang i’m sorry goodbye, di salon melayu, di kedai dobi atau loundry melayu. Coba kalau terus begini bagaimana boleh bertahan?