Gara-gara Uri atau Tali pusar??
Kononnya bayi dengan tali pusar atau uri bagaikan adik dengan kakak, ada hubungan batin. Betulkah? Khan tali pusar atau saya panggil saja uri ya biar simple, tidak bernyawa kok bisa? Ini lah yang selalu membuat silang pendapat saya dengan suami saya, suami saya berdasarkan fakta sedangkan saya hanya kebiasaan saja yang dibawa orang tua dari dulu lagi. Betul atau tidaknya belum pasti, ini hanya kebetulan atau disambung-sambungkan supaya betul. Kebiasaan keluarga saya turun temurun adalah, ketika kita habis bersalin, uri itu dibersihkan, dibungkus kain putih lalu dikubur, kalau mau ada doa selamat alias syukuran, tapi tidak wajib. Kalau kebiasaan dari keluarga suami saya tidak tahu, tapi ibu mertua bilang hampir sama lah dibersihkan dan dikubur biar tidak dimakan kucing.
Cara penanganan uri ke tiga anak saya ini berbeda-beda. Dan memang ketiga anak-anak saya ini tumbuh kembangnya berbeda-beda pula, tapi betulkah gara-gara uri? Jadi kalau kami bercanda, ada yang error tingkah anak saya ini, pasti dibilang gara-gara uri, yang membuat heboh isu ini bukan saya dan suami saya, tetapi anak-anak sendiri, Farid dan Firda. Fahima cuma ikut-ikutan saja. Mungkin karena mereka nguping obrolan kami dulu tentang uri yang nanti akan saya ceritakan.
Farid. Farid lahir di RS Boromeus Bandung. Yang menunggu saya melahirkan adalah suami saya dan adik saya Ani. Pihak rumah sakit memberikan uri kepada kami, langsung dibawa pulang oleh Ani untuk diurus mamah. Sedangkan suami saya menemani saya di rumah sakit. Katanya sih di rumah ada pengajian, lalu paraji (dukun beranak) yang biasa mengurut kami yang mengurus dan menguburkannya di halaman rumah. Bawaan Farid waktu bayi anteng, tenang, seperti gak punya bayi deh. Tidur saja, kalau waktunya minum susu baru dibangunkan, saya malah bisa istirahat jadinya.
Firda. Firda lahir di Hospital kerajaan Kulai, Johor Bahru. Tidak ada yang menemani saya melahirkan, karena suami saya harus jaga Farid yang masih kecil. Jadi sewaktu suami saya bezuk, uri itu baru diberikan oleh pihak rumah sakit. Suami saya kebingungan mau diapakan uri ini? Rencana akan diurus nanti setelah saya pulang ke rumah. Akhirnya karena takut bau, suami dan Farid mencuci uri itu berdua, tapi katanya kok gak bersih-bersih juga darahnya masih banyak, jijik deh. Lalu mereka punyai idea, biar bersih uri itu dimasukkannya ke dalam mesin cuci, dan senang saja tinggal menunggu mesin berhenti, uri tersebut bersih betul-betul bersih sampai tidak ada darahnya lagi. Setelah itu dimasukkannya ke dalam freezer. Bawaan firda waktu kecil. Di rumah sakit menangis terus, setiap diletak nangis, saya harus menggendong dia terus, baru reda nangisnya, kemudian pipis saja. padahal ASI belum banyak dia minum. Setelah beberapa hari saya pulang, saya tanya suami saya,
“Uri sudah di kubur?”
“Eh lupa! Masih di freezer!” Jawab suami saya dengan wajah kagetnya.
“Kok disimpan di freezer sih bukan di kubur saja langsung!” Kata saya setengah kecewa, setengah lagi kasihan, karena dia betul-betul tidak sengaja dan tidak tahu.
“Patutlah Firda rewel!” kata saya sambil mau menangis, teringat mamah, dan saudara-saudara di kampung, yang biasa menolong kalau ada apa-apa, sementara di Johor tidak ada siapa-siapa.Tambah lagi cerita si Farid bagaimana cara mencuci uri itu, duh….komplit deh perasaan saya waktu itu, tapi saya tidak bisa salahkan siapa-siapa. Nasib baik ketika itu datang ibu Kamis, ibu angkat ceritanya menengok saya, akhirnya dia panggil paraji juga untuk mengurus uri. Uri di ambil dari freezer diberi asam jawa dan garam sama paraji itu, diberi jarum dan benang, diberi pinsil lalu dibungkus kain putih. Setelah itu dimasukkan ke dalam pasu tanah liat baru dikubur. Wah…ribet sekali.
“Buat apa ditambah pinsil?” tanya suami saya
“Biar kelak jadi anak pandai.” kata paraji polos.
“Kenapa tidaK komputer saja?” canda suami saya
“Nanti dicuri orang.” jawab paraji lagi.
Ooooooo…begitu ya? Biarlah.
Fahima. Fahima lahir di rumah sakit yang sama dengan Firda, 7 tahun kemudian. Uri seperti biasa diberikan kepada kami oleh pihak rumah sakit. Waktu suami saya bezuk pagi-pagi dengan Farid dan Firda, suami enggan bawa uri itu lagi. Nanti saja sore katanya. Saya bilang telephon saja kak Lin, tukang urut yang biasa mengurut ibu-ibu habis bersalin, dia juga mau menguruskan uri Fahima. Suami saya setuju. Dibawanya uri pulang waktu bezuk sore hari. Malamnya saya di telephon suami, bahwa uri sudah di kubur. Alhamdulillah, tidak ada kejadian seperti Firda lagi. Bawaan Fahima, sama dengan Firda nangis juga, tidurnya pun tidak tenang, haus atau apa ini? Dikasih susu ibu, nangis juga mungkin belum keluar pikir saya. Kemudian saya kasih susu botol, wah…baru tenang, tapi tiba-tiba muntah. Saya tanya sama Firda,
Saya : “Urinya kapan di kubur Fir?”
Firda : “Malam-malam, dalam lho bu..Sepanjang tangan bapa.”
Saya : “Oh sama bapa, kok gak sama kak Lin?” Firda hanya mengangkat bahu
Firda : “Uri nya langsung dikubur, dikeluarkan dari plastik sama bapa, tidak dicuci dulu.”
Oo….Lagi-lagi bapak Ad buat ulah, bikin saya penasaran, kenapa bisa begitu.
Saya: “Kok langsung dikubur? Tidak dicuci dulu?”
Bapak: ” Sama saja, dicuci pun darahnya ke selokan juga, dibuang juga, apa masalah?”
Saya : “Aduh si bapak, ya adab dong pak. Segala perbuatan ada adabnya.”
Bapak:”Tidak apa-apa, memangnya uri mahluk hidup?”
Ah sudahlah saya tidak mau berargumen banyak, ilmu tentang ini saya pun tidak tahu banyak. Tapi yang jelas sampai sekarang , Farid anaknya tenang, kalem, Firda cengeng dan heboh, Fahima cengeng, takut sama orang dan….tukang berantakin rumah. Tidak tenang melihat rumah bersih, baru sebentar dibereskan sudah kembali seperti kapal pecah. Betulkah gara-gara uri?
July 17th, 2010 at 11:41 pm
Actually fantastic article. Theoretically I could write one thing like this too, but taking the time and effort to create a very good post is a great deal of effort..
.but what can I say….I’m a procrastinater. Great read even though.