Sepinya tahun baru Cina……
Setiap tahun baru Cina, kota Johor seperti mati. Kedai-kedai tutup, jalanan sepi, mall-mall pun sepi. Kemana perginya orang-orang Cina? Ke kampung kah atau ke luar negeri? Mungkin tahun baru ini, saatnya untuk bersenang-senang, menghabiskan uang yang selama ini mereka cari dengan tekun. Saya tanya sama tukang sayur langganan saya kemarin sebelum cuti.
“Eh tahun baru ini ada balik kampung tak?” tanya saya.
“Oh iya lah kak, harus!” jawabnya spontan. “Kami harus balik, sebab mak dan bapak masih ada, kena bagi angpau lah.”
“Selain jumpa sanak saudara, ada pergi mana-mana lagi?” tanya saya lagi ingin tahu.
“Tak adelah kak, kita sudah penat. Saya bercadang tidur saja kat kampung.”
Lho? saya pun bengong, rupanya hampir sama saja kebiasaannya dengan sebagian orang-orang kita, kalau di hari raya tidak ada tamu memilih tidur daripada jalan-jalan, habis di rumah saja sudah kecapaian tambah jalan-jalan lagi. Ada juga saudara kawan suami saya yang orang Cina, saudaranya itu mempunyai kepercayaan setiap tahun baru harus ke luar negeri, katanya buat buang sial, ah ada-ada saja yang jelas bukan buang sial kali, buang duit kalau itu.
Karena kedai-kedai tutup eh kedai melayu buka deh, dapur saya pun jadi sepi. Tidak terdengar bunyi memasak, yang ada masak air saja buat mandi Fahima. Lalu makan? ya makan cari restoran Padang sambil jalan-jalan. Atau menunggu undangan makan dari teman he..he. Biasanya di hari libur banyak kenduri. Kaya kemarin, kami diundang sama kak Zai, yang mempunyai restoran di Taman Sripulai, pada acara akikah cucu-cucunya. Otomatis saya tidak masak, hanya membuat sarapan saja itu pun membuat mie sedap biasa. Menjelang tengah hari, perut sudah kriuk-kriuk, suami saya sudah mulai lapar.
“Sabar dulu sebentar lagi jam 15. kita langsung pergi ya!” kata saya menenangkan. Undangan tertulis jam 15. Tapi ketahuan sekali khan ngejar makannya kalau pergi jam 15, akhirnya di mulur-mulurkan sampai jam 16. Suami dan anak-anak sudah lapar sekali.
“Kita pergi ke restoran saja lah bu, sudah lapar nih!gak usah pergi ke kak Zai.” ajak suami saya.
“Ah gak enak ah, kita diundang masa gak datang.” jawab saya.
Akhirnya setelah siap semua, sholat dan beres-beres berangkatlah kami, jam 16.15. Putar sana sini mencari alamat rumah kak Zai di Taman Mutiara Rini, sampai di tempat tujuan jam 16.45. Sudah ramai orang yang datang, bau makanan di sepanjang jalan tercium menambah keroncongan perut. Apalagi kak Zai yang mempunyai restoran ditambah besannya yang jago masak, sudah dapat dibayangkan pasti sedap-sedap makanannya. Sampai di rumah kak Zai, saya jadi ingin tertawa dan kasihan juga sama suami saya dan anak-anak, Apa yang terjadi? Bukan…..bukan habis makanannya, tetapi acaranya baru dimulai, yaitu dengan pengajian ibu-ibu dahulu, ngaji surat Yasin tambah tahlil. Ha..ha waktu makannya jadi mulur lagi. Duh sabar ya…anggap saja lagi puasa. Jadi setelah selesai pengajian, jam 18 baru makan. Setelah menunggu lama, karena ibu-ibu yang ngaji dahulu yang makan, baru suami dan anak-anak makan. Sambil menahan senyum, saya tanya mereka,
“Enak ga makannya?
Lalu jawab mereka, “Biasa saja.”
Lho, padahal menurut saya enak kok, rupanya karena terlalu lapar jadi nikmatnya makanan tidak terasa lagi, katanya sudah enek, karena dari tadi cium baunya saja. Ada nasi minyak, kambing kurma, goreng ayam, laksa johor, salad, mie goreng, buah-buahan dan kueh-kueh serta puding. Iya deh saya minta maaf, gak akan diulang lagi, nanti mau masak lagi, habis gara-gara kedai tutup sih, gara-gara tahun baru Cina. He….he. SEPI………..
“Kayaknya Ad mau sakit nih.” kata suami saya sambil pegang tenggorokkannya.
“Gara-gara telat makan?” tanya saya.
“Mungkin..” jawab nya santai.
Serius nih atau menyindir saya?????
July 7th, 2008 at 11:36 pm
Assalamualaikum, salam kenal
July 15th, 2008 at 1:02 am
Waalaikumsalam Wr.Wb. Terimakasih kunjungannya. Salam kenal lagi.