Ulah Farid

Hari ini, 27 Februari pagi-pagi Farid sudah kena semprot ibunya. Banyak deh kelupaan dia yang membuat saya uring-uringan. Mana bapaknya tidak ada di rumah lagi, pergi seminar ke Australia selama seminggu. Hari minggu ini ada janji dengan Tc. Karen, guru pianonya. Tc. Karen khan cuti bersalin hampir sebulan lebih, jadi dia berpesan sama Farid untuk mengulang kaji pelajaran teori musik karena tanggal 10 Maret ujian ABRSM. Saya selalu ingatkan dia agar setiap hari belajar 10-30 menit. Dia menurut, dibawanya buku piano ke kamar, saya cek pun dia sedang baca-baca. Tetapi saya lupa  cek buku latihannya. Tadi malam saya cek buku latihan baru 3 lembar dikerjakan dari 50 lembar halaman. Lain halnya dengan Firda, Firda sudah hampir siap semuanya. Uh….ini anak. Saya menyanyi dari A-Z malam itu, e….e dia bilang, “Abang tidak berminat lagi lah bu!” Bagus ya…..Dulu dia yang minta kursus piano, dulu dia yang ngotot minta dibelikan piano, sekarang minta berhenti. Lalu sia-sialah apa yang sudah dia kerjakan selama ini. Ujian-ujian teorinya selalu bagus dapat Distincsion terus, malah dia loncat dari grade 1 ke grade 3, sekarang ujian grade 4, sudah patah semangat. Farid apa yang terjadi dengan kamu nak?

Farid n piano Farid n tc.Karen Farid, Firda n tc.Karen 

 Selidik punya selidik, rupanya ada saingan di rumah nih. Ya ada internet, Semenjak dipasang internet di rumah, pulang sekolah, bangun tidur mau tidur, ini yang pertama disentuhnya. Di internetnya bukan lihat apa-apa tapi lihat komik Naruto. Wualah……itu kan yang membuat selalu penasaran.

 warnet di kamar

 Itu hari baru saja dibelikan sepeda sebagai hadiah lulus SD dengan 5A, saking senangnya dia berjanji akan belajar lebih rajin lagi.

 sepeda baru

 Buktinya? (Tapi didalam hati saya, tidak apa-apa deh ujian sekolah kemarin hasilnya bagus juga, diatas 90 semua) Mungkin ini rasa takut saya, karena hari minggu besok Tc. Karen mau periksa semua buku-buku dia. Kok jadi ibunya yang kalang kabut. Akhirnya saya buat perjanjian baru. “ Oke…..kalau mau berhenti belajar piano ibu pun tidak akan memaksa. Boleh besok berhenti tetapi internet kita putus, PS 2 disimpan, sepeda dijual lagi.”  Nah lho? Dia terdiam……..lama. “Bagaimana?” tanya saya lagi. Jawabnya apa saudara-saudara? Ha…ha. Rupanya dia memang masih anak-anak. Padahal sudah SMP lho, “Sebenarnya abang ngantuk bu, kalau mengerjakan PR piano, jadi abang maunya tidur saja. Iya deh abang mau belajar betul-betul.” Takut kan kehilangan hobby dia. Ya itulah perjanjian kita, abang nurut sama ibu dan ibu pun nurut sama abang, adil khan?

Sudah beres satu masalah. Tadi malam saat semua tidur saya matikan semua lampu. Kira-kira pukul 11 malam lah si Farid keluar dari kamar. Saya pikir dia mau siapkan buku pelajaran, saya teruskan lagi tidur. Pas bangun subuh-subuh untuk menyiapkan keperluan Farid dan Firda sekolah, semua lampu menyala, dari kamar belakang, dapur, ruang makan dan ruang tamu, sampai kipas angin pun hidup. Ini pasti Farid lagi. Saya bangunkan dia. “Bangun Farid, sudah subuh, ayo mandi. Abang yang hidupkan lampu ya?” Dengan tergagap dia menjawab “Maaf bu, abang terlupa, tadi malam abang habis setrika baju sukan jadi abang hidupkan lampu.” Lalu saya bilang, “Kenapa mau setrika saja harus menyalakan semua. Setrika di kamar belakang lampu dan kipas angin depan pun ikut hidup” Ah…ini memang cerita lama…penakutnya tidak hilang semenjak ikut jambore nasional. Di dalam bis katanya diputar film horor JANGAN TENGOK BELAKANG sampai sekarang belum hilang-hilang. Tapi itu kena semprot saya juga, sebab mubazir. Dia asyik minta maaf saja tapi saya diam saja.

Kemudian yang ketiga. Sepulang sekolah kemarin, dia minta izin riadah naik sepeda. Pulang-pulang magrib dengan baju kotor dan badan penuh keringat. Rupanya habis main bola. Saya tengok ke luar, ola..la pakai sandal jepit lagi. Berkali-kali saya bilang kalau mau main bola pakai sepatu, kan sudah dibelikan sepatu bola di bundle sama bapak. Pakai sandal jepit berbahaya bisa jatuh. Selain itu sandal jepitnya baru (takut putus he..he) habis mahal juga untuk ukuran sandal jepit RM 30. Dia minta maaf lagi. Alasannya tidak mau pakai sepatu kenapa? Sepatunya warna merah. Ehm…..

sepatu merah

Marah saya belum habis, saya diamkan si Farid sampai pergi sekolah tadi. Minta salam pun saya diam saja. Kasihan juga dalam hati. Tapi ini lah mungkin salah satu cara saya, saya bilang sama dia.”Untuk apa minta salam dan maaf sama ibu. Setiap ibu kasih nasihat Farid tak pernah didengar, kan untuk kebaikan Farid juga ibu bilang ini dan itu. Ibu malas dengar minta maaf!” Dia pergi sekolah juga dengan lemas karena bis sebentar lagi datang. Kasihan….dalam hati. Pas lihat meja makan, eh susunya tidak diminum, rotinya pun tidak dimakan. Kalau Firda sudah habis….Maafkan ibu ya Farid. E…tapi duit bekal RM 5 diambilnya. He…he takut lapar juga ya?


Leave a Reply