Cerita khayal si montel……
Pusing….rasanya lihat rak buku berserakan. Saya berniat mau merapikan rak buku, menyortir mana yang sudah tidak dipakai lagi untuk dibuang. Tiba-tiba saya menemukan buku kenangan anak saya, Firda. Buku kenangan itu diisi oleh teman-temannya, isinya macam-macam, selain biodata, ada puisi, ada teka-teki, dan komentar-komentar temannya, juga cerita karangan temannya. Saya kaget ketika salah seorang temannya membuat cerita tapi belum selesai, sebut saja si MONTEL, karena anak ini memang badannya montel alias gemuk, ini dia ceritanya:

Astagfirullah, kenapa anak sekecil ini, bisa membuat cerita seganas begini? Saya tanya Firda bagaimana kelanjutannya, firda bilang si Montel melanjutkan ceritanya di sekolah, horor katanya, banyak temannya yang takut tetapi tidak boleh diceritakan sama orang. Nampaknya daya khayal anak ini sudah terlalu jauh, apa yang dipikirkannya itu yang diucapkan.
Pernah si Montel main dirumah dari pagi sampai sore, kalau teman-teman Firda yang lain, main sama-sama, belajar sama-sama. Si Montel lebih senang menyendiri, nampaknya anak ini temperamen, temannya bercanda sedikit saja, marah. Ketika teman-temannya asyik bermain, dia pula pergi berexplorasi, bolak balik ke kamar saya lah, ke kamar si Firda lah. Di kamar saya apa yang dia dilakukan? Dia mencoba-coba parfum saya, lipstik saya. Duh kata saya ini tidak boleh dibiarkan. Lalu saya menyuruh Firda, supaya bilang sama si Montel jangan ganggu barang-barang ibu, eh malah dia jawab, “Alah..sikit je!” Mendengarnya saya sudah gregetan. Tapi yang membuat saya senang sama dia, ngomongnya seperti orang besar dan makannya….hem…..boleh tahan. Sebentar-sebentar lapar saja, sebab anak-anak saya pada susah makan, melihat dia makannya lahap kok senang gitu.
Saya dibuatnya betul-betul bingung ketika besoknya di sekolah, si Firda dimusuhi sama si Montel. Si Montel bisik-bisik terus sama temannya, apa gerangan yang dibisikkan? Rupanya salah seorang temannya membocorkan rahasia, katanya begini : “Jangan main dengan Firda, Mak dia suka marah-marah, kite pun semalam main kat rumah die kena marah, padahal kite pakai parfum sikit je tak sengaja!”
Oo….padahal bicara sama dia pun saya tidak, apalagi memarahinya. Dalam pikiran saya pasti ke ibunya dia cerita banyak, soalnya Firda pun demikian selalu cerita sama saya. Wah harus diluruskan nih, takut ibunya salah paham, gawat, saya tidak mau ….Akhirnya saya telephone ibunya. Setelah saya telephone dan cerita dari awal sampai akhir, ibunya malah tertawa. Si Montel tidak pernah cerita apa-apa pun sama ibunya, malah tahunya dari saya, ibunya bilang sudah biasa, anak ini suka membuat iseng orang, banyak yang sudah kena kerjaannya, saudaranya ya tetangganya. “Minta maaf lah Ai, sudah buat susah!” kata ibunya lagi.Tapi saya bilang ini tidak boleh dibiarkan, nanti bisa tambah parah, jawabnya ” Ya…namanya budak-budak!”
Namanya memang anak-anak, tetapi kalau anak-anak saya seperti itu tidak akan saya biarkan……….betul. Walaupun cuma cerita khayalan……….
Caranya? caranya diajak ngobrol dari hati ke hati kenapa ananda bisa berkelakuan seperti itu, ditunjukkan begini tidak boleh begitu tidak boleh dengan alasannya. Contoh kalau mau memakai barang orang harus minta izin dulu sama orangnya, nanti orang itu akan sedih karena barang kesayangannya dipakai sama kita, sama teman harus sayang biar kita pun disayang khan senang kalau disayang orang. Mengenai cerita khayal, walaupun itu imajinasi, dibilang bahwa tidak ada yang senang mendengar cerita seperti itu, tidak baik, membunuh itu bukan perbuatan baik malah perbutan jahat yang dibenci semua orang. Intinya ya kita harus sering menebar perkataan dan perbuatan yang penuh “sayang” dengan anak. Insya Allah anak pun paham apalagi sudah kelas 3 SD. sudah pintar itu…..
Besoknya lagi di sekolah, si Montel sudah baik lagi sama Firda, malahan dia bilang sama kawan-kawannya, kalau main harus ajak-ajak Firda. Lho? Ada apa? Rupanya dia bilang, “Mak kite marah kalau kite tak kawan dengan Firda?” Eh….eh kumaha budak teh nya?