Tentang Firda
Sekarang saya khususkan menulis tentang Firda, soalnya dia protes sama saya, “Ibu ini asyik tulis abang dan Fahima saja, adek enggak!”. Rupanya dia sering ngintip blog saya. Memang di blog saya kebanyakan cerita Farid dan Fahima, tentang Firda juga ada, tetapi judulnya bukan nama dia. Cerita Firda banyak sebenarnya, tapi khan Firda sudah bisa cerita sendiri lewat blog dia, jadi kalau saya tulis nanti sama saja isinya dengan yang dia ceritakan, tidak seru deh.
Firda ini bawel…, pulang sekolah ceritanya banyak, tentang temannya lah, tentang ustazah dan ustaznya, tentang pelajaran dllsb. Kalau pulang sekolah kebetulan saya lagi tidur dibangunkannya, kalau saya lagi sholat ditunggunya disamping saya, hanya untuk cerita, padahal saya responnya cuma bilang “Oh ya?” atau “Iya ke?” atau “Ehem.” Tetapi dengan begitu semakin semangat dia bercerita. Kebiasaan cerita bukan ke saya saja, ke bapaknya juga begitu. Kalau bapaknya pulang kerja sore-sore, dia yang selalu bukakan pintu pagar lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disamping bapaknya. Lama mereka ngobrol di dalam mobil setelah selesai baru masuk ke rumah. Pokoknya berbanding terbalik dengan abangnya yang tidak bicara kalau tidak ditanya. Malam-malam kalau saya ngobrol dengan suami saya, cerita tentang Firda begini begitu di sekolah, suami saya bilang sudah tahu dari Firda. Satu lagi kalau saya pergi atau bapaknya pergi, dia tidak ikut, sebentar-sebentar telephone saja. “Ibu ada dimana?” atau “Ibu masih lama ke?”.
Kemudian dia ini suka nguping dan memperhatikan orang, kalau saya ajak ke pengajian ibu-ibu, sesampai di rumah, “Bu, tante A bajunya bagus, warna pink lagi, tante B handphonenya sama dengan ibu, tante C itu dikit-dikit selalu bilang Masya Allah saja.” dll. Yang lucu, ada saudara suami saya datang dari Batam, kebetulan anaknya sekolah di UTM, kami mengantar Uni Yeni namanya, belanja untuk membeli keperluan anaknya yang duduk di asrama, dari mulai bantal, karpet, setrikaan sampai sapu. Pokoknya belanja sampai troly penuh deh. Si Firda khan kaget, dia jarang melihat ibunya belanja sebanyak itu, terus kalau saya belanja, si Firda mau ini dan itu, saya suka bilang duitnya tidak cukup, atau jangan mahal lah. Eh sama uni Yeni dibelikan baju lah, jadi firda ini ngebuntutin uni Yeni saja. Ketika sampai di kasir diperhatikannya, habis berapa uni Yeni belanja, tambah melongo saja ketika uni Yeni bayar RM 500. Lalu cepat-cepat dia menemui saya dan berbisik kepada saya, “Bu Ma Odang itu banyak duitnya, adek lihat di dompetnya, banyak bu, tadi saja dia belanja RM 500.”
“Sssettttt…!” Saya malu takut kedengaran, akhirnya saya plototin dia. Kalau mau cerita nanti saja di rumah. Ih gimana ini anak.
Firda ini tidak boleh pegang rahasia, dia sendiri bilang, adek tidak tahan kalau ada rahasia, maunya cerita saja. Wah gawat, saya memang harus lebih hati-hati dengan Firda. Tapi anak ini cepat sekali tersentuh hatinya, cepat sekali menangis. Kalau saya marah sama Farid, dia ikut menangis juga, lihat film di video atau di TV kalau ada yang sedih-sedih nangis. Kemarin saja, waktu ulang tahun Farid saya hadiahkan handphone kedua-duanya, dibungkus kertas kado lalu diselipkan surat berisi nasihat, nangis terisak-isak. Apalagi kalau dia sendiri yang dimarahin baru mulai mau marah saja sudah nangis duluan. akhirnya tidak jadi marahnya.
Alhamdulillah…., Firda bolehlah di sekolahnya, masuk 5 besar terus, setiap tahun selalu naik pentas. TETAPI……saya betul-betul kesal dibuatnya kalau makan selalu pilih-pilih, maunya ayam balado dengan sayur kailan ikan masin saja. Kalau ada itu makan tanggung banyaknya, nambah-nambah lagi. sayanya yang bosan memasak, enek rasanya. Kalau saya memasak ayam balado, berkali-kali dia bilang “Terimakasih bu!”
Hobby Firda sekarang chatting di Yahoo Messenger, Freindster-an. Temannya banyak juga. Teman-temannya menurut saja sama dia, Jadi wakil ketua kelas 2 tahun berturut-turut. Tahun berikutnya saya larang karena dia sering sakit kepala. Setiap jadi wakil ketua kelas sakit kepala, sebab dia harus teriak-teriak menyuruh teman-temannya jangan bising, kemudian mencatat siapa yang nakal dlsb. Jadi peranannya lebih heboh dibanding ketua kelas sendiri, ketua kelas di sekolahnya jarang yang perempuan rata-rata anak lelaki semua, yang perempuan biasanya wakilnya saja. Pernah dia sakit tenggorokan, suaranya serak, lalu disuruh teman sebangkunya untuk teriak sedangkan dia mencatat anak-anak yang bising, temannya nurut saja.
Kemudian dulu waktu kelas satu, dia membuat pertandingan menggambar dan mewarnai, yang ikutan banyak, bukan hanya teman sekelasnya tetapi kakak kelas, ada yang kelas 3,4 dan 5 pokoknya yang satu bis dengan dia. Pulang ke rumah dia bawa gambar-gambar banyak. Lalu disuruhnya saya memilih mana yang bagus. Saya bingung lalu saya bertanya: