Cuti-cuti Padang

Hai, kangen deh saya nulis cerita di blog ini, selama 2 minggu pulang ke Padang mengisi liburan sekolah anak-anak. Awalnya malas ah, sebab suami nggak ikut, khan tidak best kalau suami tidak ikut sama-sama apalagi ke tempatnya dia gitu. Tetapi sesampainya disana wah….rupanya mengasyikkan. Jalan-jalan terus. diajak jalan sama Pak Tuo Anda ke Pantai Air Manis, melihat batu Malinkundang. Makan di tepi pantai. Sayangnya pantainya kotor banyak sampah dimana-mana. Habis tempat sampah tidak disediakan, ya orang bingung juga mau buang sampah kemana? Akhirnya dibuang disitu saja. Padahal masuk ke tempat itu bayar juga. Dewasa Rp. 3500 dan Anak-anak Rp. 1500. Tapi nampaknya yang memungut biaya itu bukan petugas resmi, penduduk preman tempatan saja. Sayang ya! Padahal kalau dikelola dengan baik, tempat ini bisa dijadikan tempat wisata yang menarik. Apalagi selain batu Malinkundang ada pulau yang bisa disebrangi dengan jalan kaki saja setiap jam 10 pagi dan jam 4 sore. Karena air laut surut, tapi kalau lepas dari jam itu air laut naik lagi. Jadi harus hati-hati nanti kita bisa terdampar di pulau kecil itu kalau air sudah naik karena tidak bisa menyebrang.

pantai_farirfah2.jpg malin_kundang.jpg mejeng_pantai.jpg makan_pantai.jpg pantai_fafirfah.jpg

    Hari-hari di Padang saya isi dengan belajar menyetir. 10 jam pertemuan selesai dalam 5 hari. Benar-benar deh melelahkan. Saya rasa saya sudah bisa. Tetapi balik lagi ke Johor, beberapa kali latihan, pas di tempai ramai saya nabrak mobil orang lagi. Bamper mobil hancur, tapi alhamdulillah mobil orang penyok sedikit dan tergores-gores. Tapi saya harus ganti mahal juga, mobil itu toyota vios baru lagi, habis deh kira-kira RM 500 untuk mobil orang saja, mobil kita? Bamper saja sudah RM 200 belum cat dan ngetok lagi. Bulan ini duit suami, habis sama saya saja. Duh maaf ya. Tapi saya harus tetap semangat berlatih lagi, kemalangan ini dijadikan pelajaran berharga. Maaf ya Ad!!!!!!!!!!!!!!!

selesai_nyetir.jpg

Positif thinking itu perlu, terlebih-lebih pada diri sendiri. Dalam menyetir permulaan ini, saya selalu berpikir, gimana kalau tiba-tiba nabrak, mobil kita kena, harus dibaiki, suami marah, akhirnya kejadian deh, tapi kemarin suami tidak marah, tapi dia cuma bilang, “AI…….., Gimana Ai ini!”  Saya diam saja. tetapi didalam hati “Ya Allah, kenapa saya ini tolol banget, sepatutnya hal ini bisa dihindari. Mobil lewat saya tabrak. Maksud kaki pijak rem malah gas yang dipijak!”  Sebenarnya instruktur banyak memberi pelajaran sama saya tetapi entahlah hal ini tiba-tiba saja terjadi. E..e kok jadi menyimpang begini kembali lagi ke cutu-cuti deh.

danau_bawah.jpg markisa.jpg

Minggu berikutnya kami sekeluarga minus suami saya pergi ke danau atas dan danau bawah. Tempatnya asyik juga, dingin, banyak pohon teh dan buah markisa. Kami singgah dulu di kebun markisa dan makan buah disana, ehm……manis sekali. Kalau orang sunda bilang buah konyal. Buah ini akan tambah manis kalau ditanam diatas 1000 m diatas permukaan laut. Sangat disayangkan lagi mengenai tempat wisata ini ya kotornya itu, lagi-lagi sampah dan banyak pengemis. Jadi risih kan kita, sementara kita beli-beli, disebelah kita minta-minta. Mau dikasih kebiasaan tidak dikasih kok tega banget. Jadi dikasih buah saja. Eh malah dia bilang, “Buah ini saya sudah biasa makan!” Lho? bukannya duit pun sudah biasa lihat? Nah lho?

Masih banyak tempat-tempat di tanah Minang ini yang belum kami kunjungi, nanti deh kalau ada waktu dan rezeki Insya Allah kami kembali lagi. Terimakasih untuk Datuk, nenek, Pak Tuo Hamda n kel, Pak Ongah Hamdi n kel dan Pak Onsu Huseini n kel, kami senang sekali bisa berlibur bersama. Doakan kami selalu ya……biar bisa kembali lagi.    


Leave a Reply