Bedah Desa
Bulan Juli ini adalah tahun ajaran baru untuk mahasiswa UTM. Mahasiswa baru pada berdatangan dari berbagai daerah dan negara, mahasiswa lama pun pada berdatangan dari cuti panjangnya, ya untuk pendaftaran. Tidak ketinggalan saudara suami saya Keyka dan mamanya juga datang, sekarang tidak tinggal di Batam lagi tapi di Medan karena papanya Key pindah tugas ke Medan. Wow….selalu!!! Mereka ini kalau berkunjung ke rumah membawa apa-apa saja, kali ini membawa bolu gulung Meranti Medan. Ups…yummy, sedap betul. Terimakasih ya Ni Yen dan Keyka.

Tapi itulah pada musim begini mahasiswa lama dipusingkan untuk mencari tempat tinggal baru karena asrama lama mereka dipakai untuk mahasiswa baru. Jadinya Key mesti pindahan, nasib baik Key dan teman-temannya dapat rumah di Kolej Perdana tepatnya di apartment U4. Rumahnya 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Cukup besar untuk mereka berempat tapi bolehlah, walaupun agak mahal sedikit.
Kolej Perdana ini adalah komplek Apartment yang terdiri dari U3, U4, U7, U8 dan U9. U9 adalah rumah tamu yang disewakan UTM untuk para orangtua mahasiswa yang wisudaan atau orangtua yang sekedar menengok anaknya atau tamu UTM sendiri. U7 adalah asrama mahasiswa baru dan U3, U4 serta U8 disewakan untuk para mahasiswa yang membawa keluarga.
Dulu saya ada terbersit mau pindah juga ke kompleks tersebut karena sewa rumah sudah lengkap semua dengan perabot sekali dari kursi tamu sampai kulkas. Pokoknya tinggal membawa baju saja dan alat-alat dapur. Tapi karena barang-barang saya sudah banyak, pindah ke situ tambah numpuk kali ya. Sewa rumahnya waktu itu murah, tergantung banyak kamar. Rumah 2 kamar Rm 380 per bulan, rumah 3 kamar RM 480 per bulan. Air dan listrik lossssss alias free, terserah kita memakainya. Murah khan? Makanya teman-teman saya yang tinggal disitu, banyak yang peralatan dapurnya listrik semua. Bahkan banyak yang jualan kue-kue lalu dititipkan di kantin, karena buat kue, pakai oven, listriknya free.
Yang mau menyewa rumah ini ramai dan banyak yang waiting list selain pelajar, pegawai UTM sendiri boleh menyewanya. Jadi susah untuk mendapatkannya. Katanya ramai yang nyewa tapi yang kosong banyak juga gak ngerti deh. Karena susah mendapatkan rumah ini, tanpa sepengetahuan pengurus, sewa rumah di estafet, kalau ada teman-teman yang sudah kelar sekolahnya, rumah diestafet sama temannya lagi, atas nama penyewa terdahulu. Yang tidak pandai-pandai cari teman pasti tidak dapat tuh! Karena keadaan seperti itu, rupanya ada orang yang tidak dapat, cemburu, lalu lapor ke pengurus, akhirnya pengurus yang biasa cuek kini jadi ketat, malah katanya kemarin ada interview segala apakah nama penghuni sama dengan penyewa?, berapa lama lagi penghuni selesai belajar? Tapi itulah awal terjadinya bedah desa.
Di U8 kebanyakan penghuninya mahasiswa Indonesia, kaya sebuah desa jadinya, sering ngumpul-ngumpul, ngerumpi, atau kunjung mengunjungi. Iri saya deh. Disana buka pintu saja langsung pintu rumah teman, kalau ada apa-apa banyak bala bantuan, bisa dimasakin teman kalau kita uzur atau pula titip anak kalau ada keperluan. Sayangnya anak-anak seenaknya saja keluar masuk rumah orang tanpa permisi, seperti rumah sendiri kali ya karena bentuknya sama, he..he.
Tetapi kemarin saya banyak menerima telp dari teman-teman yang tinggal di U8 dan U3 menanyakan ada tidak rumah yang disewakan dekat-dekat saya ini? Rumah kosong banyak tapi saya tidak tahu siapa pemiliknya, kalau benar-benar mau disewakan biasanya dipasang tulisan didepan TO LET hub.no sekian. Ada apa kok mau pada pindah bukannya enak disitu?
“Wah gawat bu, banyak yang bedah desa, sekarang teman-teman pada cari rumah di luar kampus. Sekarang UTM tidak manusiawi lagi, sewa rumah semua dinaikkan, dari RM 380 jadi RM 480, harus bayar deposit dulu 2 bulan. Air dan listrik sekarang tiap bulan harus bayar , memasang meteran air listrik saja kena deposit RM 400, kemudian kita cuma dikasih waktu satu tahun saja!
“Duh sabar ya! tidak bisa negoisasi apa?” tanya saya
“Negoisasi malah tambah judes pengurusnya, kalau tidak mau perpanjangan kontrak dengan syarat tersebut dalam seminggu ini please move out!” kata teman sewot.
“Ih kok gitu ya?” balas saya lagi.
“Tahu ni UTM, ada angin apa lagi. Tapi ini kayaknya gara-gara orang Arab berdatangan bu! Mereka mau memasang harga sewa berapun asal rumah dapat!” tambah teman saya lagi.
Deg…..hati saya berdegup lagi. Orang Arab lagi, dimanapun mereka ada pasti saja ada yang kena dampaknya. Amboi…..itu salah satunya, tapi ngomong-ngomong lho! kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa disini, kenyataannya sekarang UTM memang lagi down, tagihan Listrik dan air untuk tiap bulannya beberapa tahun ini jauh membengkak, sementara budget terbatas. Mungkin salah satu cara untuk menutup lubangnya begini inilah. Sabar saja ya bu, iya saya coba carikan dan bantu lihat-lihat rumah kalau-kalau ada yang mau disewakan. Dan memang betul-betul terjadi bedah desa di U8, ada yang pindah ke Taman Desa Skudai, ke Taman Universiti, ada yang masih keliling-keliling, bahkan ada yang memutuskan tetap tinggal di U8. Malas kali pindah-pindah, banyak yang harus dibeli lagi minimal kasur dan kulkas. Tapi sebenarnya sama saja, Kalau disitu pun nanti depositnya pasti kembali, hitung-hitung nabung saja. Listrik air paling berapa? di luar kampus pun rumah sudah mahal diatas RM 300 mana kosong lagi….Mau bu? ( Eh, dengar-dengar nih, orang-orang yang sewa rumah dahulu mengambil kembali deposit di UTM lambat banget, bisa berbulan-bulan, karena lama jadinya malas ngambilnya, tanya pak Didi coba! Tapi mudah-mudahan yang ini nggak nantinya ya!)