Ternyata inilah hidup……
Sebagian orang ada yang memperoleh hasrat dan keinginannya dengan gampang dan mulus, sebagian lagi ada yang memutar-mutar dulu baru kesampaian dan sebagian lagi ada yang tidak kesampaian sama sekali. Itulah namanya hidup.
Surat 47 (Muhammad) ayat 36 : Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta hartamu.
Kalau semua sama, kita tidak ada introsfeksi diri, apakah kita bertambah baik atau tidak. Bagi orang yang pernah mengalami jatuh bangunnya hidup, akan terasa nikmatnya hidup, senang dan susah pernah dirasakan, sedih gembira pernah dirasakan, jadi ketika kita lagi diatas kita akan merasakan susahnya orang-orang dibawah kita, dan ketika kita ada dibawah kita akan sabar dan berpasrah diri. Kalau berharap sih jujur saja saya ingin hidup saya ini lancar-lancar saja, tetapi kalau saya berkaca diri, saya takut dengan keadaan begitu saya menjadi orang yang tidak peka. Peka terhadap lingkungan sekeliling dan terhadap sesama. Bukankah kepedulian kita dapat dijadikan lahan untuk mendapat pahala sebanyak-banyaknya?
Surat 43 (Az-Zukhruf) ayat 32 : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat TuhanMu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Tetapi kita tidak perlu takut dan cemas akan masa depan kita, walaupun jalan yang kita tempuh tidak terbayangkan sebelumnya atau diluar rencana kita.
Surat 65(At-Talaq) ayat 3 : dan Dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
Surat 39(Az-Zumar) ayat 52 : Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang yang Dia kehendaki)? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda(kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.
Pikiran saya melayang lagi kebelakang, melihat perjalan hidup suami saya. Ceritanya nih, dia dulu bercita-cita masuk Teknik Mesin ITB, tetapi Sipenmaru nyangkutnya di jurusan kimia ITB, merasa tidak sesuai di jurusan itu, akhirnya ikut Sipenmaru lagi dan masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD. Bayangkan belajar di 2 universitas yang berbeda dalam satu waktu, berbagi perhatian, nilaipun tidak terkontrol, dia harus memutuskan mana yang harus ditekuni lebih serius? Akhirnya dia memilih tetap di ITB dan meninggalkan FKG. Dan di ITB inilah dia bertemu saya sampai sekarang (sudah jodoh kali ya).
Setelah lulus S1 tanpa diduga dia melanjutkan S2 di Teknik Mesin ITB jurusan Teknik Material yang waktu itu baru dibuka, dan suami adalah lulusan pertama dengan nilai cumlaude lagi. Tawaran untuk menjadi dosen di ITB pun berdatangan, sebelumnya setelah lulus S1, suami melamar menjadi dosen di jurusan Kimia ITB, tetapi waktu itu tidak diterima karena ada kandidat yang lebih kuat yaitu Ismunandar (sekarang sudah jadi Profesor di jurusan Kimia ITB), akhirnya ketika S2 selesai dia diterima jadi staf dosen di jurusan Teknik Material ITB.
ITB rencananya mau menyekolahkan suami untuk mengambil S3 ke Belgia. Karena jatah untuk tahun itu hanya untuk satu orang dan peluang untuk tahun depan tidak pasti, suami berinisiatif mencari sekolah sendiri, tanpa disangka dia mendapat beasiswa di UTM jurusan Kimia lagi, ya akhirnya diterimalah tawaran ini, daripada bengong pikirnya waktu itu. Setelah lulus doktor pada tahun 1998 dan sedang postdoc di UTM, suami dipanggil oleh ITB untuk mengikuti tes pegawai negeri. Rupanya di ITB suami ditawarkan lagi oleh jurusan Kimia ITB untuk diangkat sebagai dosen. Namun karena jurusan Teknik Material ITB telah lebih dulu memproses lamaran makanya suami disuruh memilih, mau di jurusan Kimia atau di Teknik material? Tanpa ragu suami memilih Teknik material sebab jurusan itu yang lebih dulu memberi tawaran, selain itu proses lamaran Teknik material sudah sampai di fakultas.
Karena urusan sudah beres dan mendapat kartu tanda staf dosen ITB bahkan langsung dikasih rumah dinas segala, suami kembali ke Johor. Rumah dinas itu tidak sempat kami huni, karena suami keasyikan mencari ilmu dan pengalaman, jadinya dihuni sementara oleh adik sampai selesai sekolahnya. Baru saja sampai di Johor, beberapa hari kemudian ITB memanggil kembali untuk wawancara. Duh teganya… Memangnya Johor-Bandung dekat apa? Kenapa tidak sekalian saja kemarin, suami sudah tanya ada hal-hal lain yang harus dia kerjakan sebelum kembali ke Johor? Jawabnya tidak ada. Buktinya? Dulu tidak ada pesawat tambang murah seperti sekarang, pulang pergi 2 kali bisa tidak makan sebulan nih. Akhirnya suami menelepon Prof. N.M. surdia yang pada waktu itu selaku ketua program master jurusan Teknik Material, memohon keringanan agar wawancara dilakukan melalui telepon saja karena kalau pulang tidak mungkin, bahkan waktu itu Prof. Halimaton sempat bicara juga dengan beliau bahwa Hadi dipinjam sementara oleh UTM. Dari pembicaraan itu nampaknya oke saja, apalagi beliau menegaskan bahwa wawancara cuma formalitas saja, ya sudah.
Tetapi itulah walaupun minta izin belajar, setelah selesai S3 selama 2.5 tahun, suami melanjutkan postdoc di UTM selama 1 tahun, kemudian mendapat progam JSPS, postdoc di Sapporo Jepang selama 2.5 tahun, nama suami sudah tidak ada di daftar staf dosen ITB, mungkin karena tidak ikut wawancara itu jadi lamaran tidak diproses. Sedih memang, ketika kami memutuskan mau pulang tidak ada tempat lagi. Bukan rezeki kali, dan suami memang bukan jenis orang yang ngotot memperoleh sesuatu, dia orangnya easy life easy going, dijalani saja apa yang ada.
Selama di Jepang pun usaha untuk menjadi dosen di Indonesia masih menggebu, kembali ke ITB nampaknya tidak mungkin, kemudian mencoba ke Universitas Negeri Padang (UNP) — dahulu IKIP Padang, dari Jepang sempat pulang untuk mengikuti tes pegawai negeri lagi dan wawancara seperti biasalah, hasil tes dapat tempat tertinggi lagi, otomatis UNP welcome sekali, tetapi….tetapi….rupanya ada orang yang cemburu sampai dia mengadu ke DIKTI dan menulis di internet lagi, katanya pengangkatan dosen suami adalah KKN karena ayahnya profesor di UNP-lah dan lain sebagainya, pupus lagi niat baik ini. Kebetulan kondisi Indonesia lagi buruk kami memutuskan kembali ke Malaysia, suami menjadi dosen di UTM sampai bulan Agustus nanti sebenarnya kontraknya sampai bulan September 2009.
Sudah jenuh dengan keadaan, kami sempat memutuskan mau tetap di UTM sampai pensiun nanti, lagian anak-anak sudah malas diajak pindah ke luar lagi. Pernah Ismunandar mengontak kembali suami saya agar ikut tes PNS untuk kembali ke jurusan Kimia ITB, waktu itu ditolak karena selain mendadak, kontrak baru dengan UTM baru dibuat. Namun ternyata di UTM suami seolah-olah terkubur, kesempatan karir tersendat (karena orang Indonesia kali? — atau karena UTM lebih menghargai dosen kontrak bule atau orang yang tidak serumpun dengannya), kemudian dipermainkan oleh masalah birokrasilah, yang asalnya dia semangat berkarya, 2 tahun terakkhir ini bagaikan kompor yang tidak ada minyaknya lagi, walaupun masih bisa menyala tetapi apinya tidak kuat lagi.
Kemarin sempat berkunjung ke kawan lama di Jepang atau pergi ke Australia, kalau-kalau ada peluang, mereka mau saja menerima suami saya tetapi umur sudah hampir 40 tahun, tentunya yang lebih fresh-lah yang mereka perlukan. Malah Profesor yang di Jepang itu menasihatkan suami agar bertahan di UTM, kasihan keluarga katanya. Bahkan pernah melamar ke UI juga tetapi UI khawatir tidak bisa menggaji sesuai dengan pengalaman, sampai sekarang jawaban ditolak pun tidak ada. Akhirnya dijalani juga keadaan ini. Sampailah akhirnya suami mendapat tawaran di sebuah universitas di Pahang, mereka baru membuka fakultas baru dan mengajak suami untuk bergabung dan langsung suami diangkat menjadi Profesor Madya.
Kemarin suami membuat surat resmi pengunduran diri ke UTM, dan hebohlah UTM, sang bos pun terkejut, “Pikirkanlah kembali -pikirkanlah kembali nanti kita bisa bincang masalah Hadi ini” begitu sang bos bilang, bahkan malam-malam sekitar jam 10 sang bos menelpon ke rumah agar suami memikirkan niatnya kembali. Suami bertekad bagaimanapun dia harus pindah, ingin mencoba suasana baru, ingin berkarya lagi walaupun harus dari nol. Betul-betul bersemangat. Banyak rencana yang harus dibuat, menegaskan visi dan misi Universitas.
Kenyataannya, ternyata pindah ini rupanya tidak mudah, walaupun sudah membuat notis satu bulan sebelumnya, tetapi banyak tetek bengeknya, surat tanda berhenti dari UTM harus melalui jawatan eksekutif (rektor dan kawan-kawan) dulu, dirapatkan lagi baru bisa keluar, padahal suami kan cuma dosen kontrak biasa bukan dosen tetap UTM kok harus rapat-rapat segala. Takut dipermainkan lagi suami langsung menghadap TNC (wakil rektor kali ya) bahwa dia mau berhenti dari UTM, lagi-lagi bos ini pun minta untuk memikirkan kembali, malah mau counter offer lagi, katanya UTM bisa memberi jabatan yang sama seperti yang UMP (Universiti Malaysia Pahang) tawarkan, bahkan dia sempat heran kenapa Hadi bisa terlepas pandang begini, pengajuan naik pangkat dulu tidak pernah sampai ke atas katanya. Nah lho? jadi dimana kesalahannya? berarti…..oh no! Fakultas lah yang membuat huru hara ini. Entahlah bagaimana akhirnya, apakah surat itu bisa keluar cepat atau sebaliknya, sekarang kami sedang menunggu dengan penuh doa dan harap, agar keputusan apapun adalah yang terbaik.
Inilah pengalaman hidup kami, penuh liku-liku, bukannya senang seperti apa yang terlihat, semua ini menjadi pengalaman yang berharga, kami tidak akan ragu karena janji Allah selalu benar. Dibalik semua peristiwa ada hikmahnya, dan kita pun bisa mengambil pelajaran untuk kedepannya bagaimana agar sesuatu itu bisa menjadi lebih baik. Abang saya menyarankan agar kami harus rajin-rajin membaca Al-Qur’an lalu pahami artinya, Insya Allah semua petunjuk ada jalannya disana. Suami langsung membuka Al-Qur’an lalu dibacanya surat yang dia buka kemudian dibaca artinya. Beberapa saat kemudian dia sudah selesai. Saya heran kok cepat benar.
“Surat yang Ad buka ini kok tentang poligami i, surat An-Nisa ayat 3 yaitu artinya Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap(hak-hak) perempuan yatim(bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat Zalim. Maksudnya apa ya?” tanya suami saya bingung, rupanya masalah yang dia hadapi tidak sesuai dengan surat tersebut.
Saya jadi ingin tertawa, dia mencontoh abang saya, kalau ada masalah dia selalu membuka A-Quran, membuka surat sembarang kemudian dipahami artinya dan dijabarkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan salah Ad, bukannya Ad disarankan nikah lagi. Mungkin anggaplah pekerjaan-pekerjan yang baru ini adalah istri Ad, Ad harus adil terhadap mereka dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas! Betul tidak?” hibur saya.
“Mungkin juga ya!” kata suami saya.
Hai, siapa bilang surat itu tidak ada hubungannya dengan masalah kita. Kalau kita kaji lebih dalam, maknanya bisa dijabarkan. Bahwa di dalam hidup ini banyak pilihan, pilihan sesuai dengan hati nurani kita, sesuai dengan kemampuan kita, sesuai dengan kesanggupan kita. Suami saya sekarang dihadapkan kepada 2 dilema UTM dan UMP, kita harus bisa memilih dimana kita bisa bekerja dengan hati yang tenang, tidak ada kebimbangan didalamnya, semua yang ada disekeliling kita pun merasakan kesungguhan ini, jauh dari hal-hal yang membawa kita kepada kemudaratan, jauh dari iri dengki, jauh dari prasangka-prasangka buruk dari orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Walaupun UMP boleh dibilang universitas baru dan berada di kampung lagi, namun seperti Allah mengibaratkan menikahi istri walaupun dari golongan hamba sahaya sekalipun, tidak apa-apa asal dapat menjauhkan kita dari kezaliman. Insya Allah di UMP ini, suami bisa ikut membangun universitas menjadi universitas yang bisa dibanggakan nanti. Aamiin.
“Tapi kalau mau kawin lagi, Ai pun tidak masalah asal Ai tahunya dari Ad tidak dari orang lain!” kata saya bercanda. E..e dia langsung pergi, entah dengar atau tidak. Biasalah kalau diajak ngobrol kaya gituan dia paling males. Ngurus satu segede saya saja sudah susah, apalagi poligami, biasanya dia bilang begitu, dan tambah embel-embel toh rasanya sama saja! Eit…….ngomong apa tadi? Dasar bapak Ad!!!!!!!!! Memangnya makanan apa?
August 4th, 2008 at 3:35 am
ceu Ai semoga dilancarkan semua urusannya yah walaupun sebenarnya sedih euy ceuceu mau pergi apalagikan sekarang saya dah pindah rumah mendekati rumah ceuceu tapi untuk kebahagiaan saudara sendirikan saya tetap mendukung ceu ,semoga ini yang terbaik ya ceu
August 4th, 2008 at 12:08 pm
Iya makasih ya. Nanti kabar menyusulnya ditunggu. Kan kita biar deketan lagi.
September 26th, 2008 at 4:47 pm
Cobalah biasakan baca surah YASSIN setelah dzikir ba’da subuh(tasbihat,salawat,istighfar,kalimah thoyyibah masing2 minimal 100x setiap ba’da subuh dan ashar) kalau tidak biasa baca Qur’an sebagai amalan hari hari dan jangan lupa untuk suami sholat secara berjama’ah dimana adzan dikumandangkan diawal waktu, insya ALLOH persoalan akan jauh dari kita. Hidup bukan untuk mengatasi persoalan, karena persoalan hidup sesungguhnya tidak ada, yang ada persoalan keinginan dalam mengarungi hidup, namun hidup untuk mempersiapkan bekal menghadapi persoalan hidup yang sesungguhnya setelah kematian. Selaraskan keinginan kita dengan keinginan ALLOH. Orang yang cerdas adalah bukannya orang yang memiliki berbagai gelar, tetapi orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian, barang siapa dalam satu harinya dia mengingat kematian 25 kali dan pada hari itu dia menemui ajalnya maka matinya digolongkan mati syahid. bukankah orang yang mati syahid yang pantas balasannya hanyalah surga, kita tidak mencari mati, namun kita tidak takut akan kematian, orang beriman rindu akan kematian karena dengan kematianlah kita akan dapat berjumpa dengan sang kekasih hati yaitu ALLOH SWT. maka saat kita membaca alqur’an bayangkanlah seolah olah ALLOH sedang bicara pada kita,menasihati kita. dalam hadist qudsi ALLOH SWT telah berkata “Apabila hambuKU ingin bicara padaKU maka sholatlah tetapi apabila hambaKU ingin AKU bicara padanya maka bacalah alqur’an. Dan jangan lupa sholatlah dua rakaa’at apabila kita menghadapi persoalan, biar ALLOH yang selesaikan persoalan kita. yang penting bagai mana kita membuat networking/hubungan dengan ALLOH SWT selalu terjaga.insyaALLOH, ALLOH akan selalu menjaga kita dan keluarga kita. Jangan lupa setiap malam jauhkanlah lambung lambung kita dari kasur empuk, sholat bermunajat bersimbah air mata memohon lirih pada ALLOH, jadikanlah sholat malam menjadi suatu kebutuhan dan kerinduan kepada sang kekasih. mintalah apa yang kau inginkan dari NYA, mintalah hanya pada ALLOH jangan meminta pada makhluk, berharaplah hanya pada ALLOH jangan berharap pada makhluk karena makhluk tidak dapat memberi manfaat dan mudharot, hanya ALLOH yang dapat memberi manfaat dan mudharot. belajarlah mengeluarkan kebesaran kebesaran makhluk dari dalam hati dan memasukkan hanya kebesaran ALLOH kedalam hati. ini memang tidak mudah tapi apabila kita dapat melakukannya maka segala bentuk pernak pernik dunia ini akan menjadi tidak berarti dihadapan kita, dunia hanya sebatas keperluan saja dan jadikan akhirat menjadi tujuan hidup kita. suka ataupun tidak suka suatu saat dunia akan kita tinggalkan. akan ada beberapa fase kehidupan yang harus kita lewati yang kesemuanya tergantung amalan kita didunia ini. oh ya untuk ai jangan lupa sholat tepat diawal waktu. untuk wanita sholat yang baik adalah disudut sudut gelap kamarnya lebih baik dibandingkan sholat diatas tempat tidurnya,sholat diatas tempat tidurnya lebih baik dibandingkan ditengah kamarnya, sholat ditengah kamarnya lebih baik dibanding sholat ditengah rumahnya, sholat ditengah tengah rumahnya lebih baik bila dibandingkan sholat berjamaah bersama Rasululloh saw di mesjid. jadi sebaik baik tempat sholat bagi wanita adalah disudut sudut rumahnya sendiri. jagalah pandangan mata kepada yang bukan mukhrim. mulai belajarlah menjalankan yang sunah sunah, karena kecintaan ALLOH SWT kepada hamba hambanya ada didalam sunnah. “hambaKU dapat mendekatiKU dengan amalan amalan wajib,namun apabila dia melaksanakan amalan nafil (sunnah) maka AKU akan lantik dia menjadi kekasihKU, yang mana AKU akan menjadi matanya yang mana dengannya dia memandang, AKU akan menjadi tangannya yang mana dengannya ia memegang, AKU akan menjadi kakinya yang mana dengannya ia melangkah” dalam hadis Qudsi yang lain ALLOH SWT mengatakan “wahai hambaKU seandainya AKU ada didalam kehidupanmu, maka sesungguhnya engkau telah memiliki segala galanya, namun apabila AKU tidak ada didalam kehidupanmu,maka sesungguhnya engkau telah kehilangan segala galanya”wahai hambaKU engkau punya keinginan dan AKU pun punya keinginan, apabila kau tunaikan segala keinginanKU maka AKU akan tunaikan semua keinginanmu, namun apabila engkau tidak mau tahu dengan keinginanku maka aku akan susah susahkan engkau dalam memenuhi segala keinginanmu namun keinginanKU lah yang berlaku atasmu”
“Selamat menjalankan ibadah puasa” aku sekeluarga mengucapkan “Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin”
September 27th, 2008 at 2:02 am
Terimakasih banyak-banyak ya atas semua saran, semoga saja semua amalan itu akan selalu menjadi kebiasaan kami. Sama-sama selamat beribadat juga. Apakah saya mengenal mas sebelumnya?
October 11th, 2008 at 11:44 pm
Aiiiiiiiii, ini Aris, aduh mani kangen pisan sama si manis tinggi besar ini. Hi..hi.. baca tulisan Ai jadi pingin ketawa. Kenapa coba? Karena eh karena.. pengalaman kita kok sama ya…? Eh lupa mumpung masih lebaran : “punten samudaya kalepatanan, bisi basa urang sosobatan keur budak aya kasuat kasabit manah”
Kembali ke pengalaman yang sama. Ari Hadi mah urusan memilih kerjaan yang mana. Ari saya mah urusan usaha yang mana yang mau diseriuskan. Atau dua-duanya? Atau satu satu aja. Dua-duanya menarik (kalo lagi menarik) dua-duanya bikin stres (kalo lagi ada masalah). Yang lucu kalo dua-duanya lagi gak ada order ato dua-duanya lagi bermasalah. Sampe sekarang belum diputuskan. Masih poliandri usaha jadinya saya teh. Jadi pingin curhat-curhatan. Seandainya Malaysia deket pingin nganjang ka bumi enggal Ai. Urang ngadongeng sing panjang. Insya Allah aya rizki jadi saya disempatkan ngalongok de lilin plus nyimpang ka Ai. Oya Insya Allah mun teu aya nanaon Ema, Aden (emut keneh? adik saya nu pangalitna), kang Ilan & keluarga engke sasih Desember bade ka Singapur nganjang ka de Lilin. Mudah-mudahan aya rizki waktos sareng kasempetan Ai tepang sareng my big family (abdi tos nitip sono ka Ema & Aden : “Den, mun sempet nganjang ka Teh Ai nya!”)
Ai, panjang pisan nu hoyong didongengkeun tapi si orok sudah bangun jadi harus sasayagian.
Oya, tengok-tengok lah toko saya di imeutchocolate.com. Tapi masih under construction, masih pabaliut. Kalo susah diakses harap maklum
October 12th, 2008 at 5:52 pm
Arisku sayang….aduh puguh abdi kangen pisan. kamari kaobatan ku de lilin geura, jiga Aris pisan geuningan nya nang rada geulisan de Lilin. Emut atuh! Hayu atuh diantos pisan, kaleresan aya kamar tamu yeuh di tempat abdi teh geura. Duh Aris sibuk menjadi wanita karier abdi mah ibu RT saja. Ibu Rt kerjaannya lebih berat geuningan…..Mun abdi teu kiat double-double. pokokna hebatlah aris.
October 17th, 2008 at 4:44 am
Terry, kumaha kabarna ? masih emut teu ka Novy Kimia 87? Aku seneng ketemu blognya Terry… ga sengaja aku lagi cari informasi keberadaan Eriawan Kimia 88. Eh ternyata dia lagi S3 dg bimbingan Hadi. dan akhirnya aku masuk di web Hadi Nur. Aku udah lama euy teu email2 sama dia, salam ya buat Dia.
Ter, anaknya sekarang sabaraha? Tinggal di Jojor atau di KL? boleh dong aku minta emailmu.
Aris teh nu Angkatan 86 tea nya? Nu keur kuliah tos gaduh putra?
October 20th, 2008 at 7:01 am
Euleuh2 neng Novi, ih emut pisan atuh. Kan abdi rajin pinjam catatan terus sama Novi. Iya pak Eri (jadi manggil pak ayeuna mah) ada di Johor. Kami tinggal di Johor. Nanti salam nya ta sampaiin ya. Iya betul Aris Ki 86. Atos Aris nu mana tea..sahabat abdi teh. Da mung Aris ieu hiji-hijina.
January 29th, 2009 at 5:08 am
Ass, sungguh luar biasa pngalamannya.
Kalo boleh bertanya nih ada ga lowongan sebagai dosen di sana.
Kualiikasi saya di bidang keperawatan gawat darurat.
Trainer pada platihan PPGD dan outbound rescue.
Mohon infonya ya
salam, imut
January 29th, 2009 at 9:29 am
Waalaikumsalam. Kebetulan di Universitas tempat suami mengajar ini, jurusan teknik dan science. Barangkali imut boleh jalan-jalan ke web Universiti Malaysia atau Universiti Kebangsaan Malaysia, karena kalo tidak salah jurusan seperti Imut bidangi ada mungkin. coba saja.