Ada tamu ada rezeki

Seharian, mata kanan saya berdenyut alias kekerenyedan kata orang sunda mah. Nenek bilang itu tandanya mau dapat rezeki atau ketemu sama kawan dan saudara. Tapi Insya Allah bukan karena kesalahan syaraf, soalnya sekarang sudah sembuh.

Eh ternyata, pada hari itu kita memang kedatangan tamu, pagi-pagi datang Pak Eri dan istri. Pak Eri mau ketemu sama suami untuk bicara tentang tesisnya dia. Beruntungnya saya, karena saya lagi menyisihkan barang-barang di rumah, barang-barang seperti mainan Farid, buku dan majalah, rice cooker yang jarang dipakai dlsb, semua masih bagus, rencana saya dikumpul dulu lalu mau dikasihkan ke rumah orang-orang istimewa itu. Bu Eri tanya barang-barang ini mau dibuang? Kalau mau buat saya saja atuh. Kebetulan dengan senang hati saya memberinya karena biar rumah cepat bersih. Tahu deh, melihat rumah ini stress saya dibuatnya. Tidak pernah beres. Orang yang datang ke rumah selalu bilang rumah saya kebanyakan barang, tapi walaupun sudah banyak yang dibuang tetep saja tidak ada perubahan.

Siangnya datang bu Alvi dan Abduh anaknya. Abduh di rumahnya tidak ada teman. Dia mau main dengan ade Fahima dan abang Farid. Kebetulan abang Farid dan kakak Firda lagi liburan, jadi bisa menemani Abduh bermain. Sampai menjelang zuhur Abduh tidak mau pulang, akhirnya mamanya aja yang pulang. Beberapa jam kemudian mamanya Abduh datang lagi, mengajak Abduh pulang, tapi Abduh tetap tidak mau pulang. Ya…sambil menunggu bosannya Abduh bermain kita jadi ngaler ngidul ngobrol. Dari yang serius sampai yang lucu-lucu.

Ada beberapa cerita yang membuat saya trenyuh alias terharu. Saya khan cerita mau pindah rumah ke rumah yang agak besaran dikit, biar Farid dan Firda punya kamar sendiri-sendiri. Bu Alvi menyarankan pindah saja ke dalam kampus, banyak rumah fellow yang kosong, kamarnya ada yang 3 dan 4. Untuk staff UTM sewa rumah tidak dinaikkan, listrik dan air tetap free. Saya bilang susahlah pindah ke dalam, ke kedai jauh, lagian kalau ada tamu jauh atau saudara datang tidak repot berurusan dengan pak satpam. Kalau di luar kampus khan, naik bis senang dan naik taxi pun senang.

Kami ini beruntunglah saudara selalu datang, dari Jakarta, Padang, Bandung, Riau, Batam dlsb. Boleh dikatakan tempat transit, bagi saudara yang mau ke Singapura singgah dulu, atau ada yang mau ke KL dlsb pasti singgah ke tempat kami dulu. Rata-rata saudara dari pihak suami. Kalau dari pihak saya jarang, hanya satu dua orang saja. Mereka sering juga ke Singapura atau ke Malaysia tapi tidak pernah singgah, cuma kami ditelephonenya saja mereka lagi dimana dan tidak bisa singgah.

Saya cerita sama bu Alvi bahwa keluarga dari pihak suami, kompak-kompak. Silaturahmi sering dijaga. Mereka akan senang mengunjungi saudara yang ada di rantau, karena tahu kami pun rindu sama mereka dan tanah air sendiri. Mereka sering mengobati rindu kami, dengan datang dan seringkali membawa sesuatu dari kampung seperti makanan dlsb. Kalau keluarga dari pihak saya, tidak begitu. Kadang-kadang mereka enggan berkunjung tidak tahu sebabnya. Jangankan di rantau di kampung sendiri pun begitu, berkunjung ke tempat saudara kalau ada perlu saja atau minimal hari raya. Malah kalau ada saudara yang sukses tambah dijauhi, takut disangka ada semut ada gula, dan banyak cerita yang ujung-ujungnya sering membuat sakit hati. Jadi mereka jalan sendiri-sendiri saja, mau sukses-sukses sendiri saja, mau susah-susah sendiri. Tidak kompak, sedih deh.

Rupanya keadaan saya sama dengan bu Alvi. Sebenarnya bu Alvi ini ada kakeknya yang tinggal di Malaysia dan sudah menjadi warga negara Malaysia. Sebutannya memang kakek walaupun orangnya belum terlalu tua. Kakeknya itu termasuk orang kaya di Malaysia ini, dia kontraktor, yang membuat lebuhraya Johor-KL kan termasuk kakeknya ini. Kalau ibubapanya bu Alvi ke Malaysia, mereka wajib datang ke tempat kakeknya itu. Tapi kalau bu Alvi sendiri malu katanya, lho kok malu?

Kakeknya itu tinggal dikawasan elit di Malaysia. Anaknya cuma 2 orang sebaya adik-adiknya. Katanya mobilnya banyak dan mewah semua, tidak ada namanya Proton disana. Ketika bu Alvi berkunjung ke sana, dia tanya tentang anak kakeknya itu. Lalu sama neneknya di jawab bahwa anaknya sedang dijemput, sebenarnya anaknya bisa saja pakai mobil sendiri tetapi karena mobil mewah semua, dia malu bawa mobil ke tempat kuliahnya. Jadi mesti diantar jemput. Akhirnya kakeknya itu bilang ke istrinya kebetulan didepan bu Alvi, kenapa tidak dibelikan saja mobil yang agak murah begitu, Hyundai atau apalah biar bisa dibawa kuliah. Naaaaah…..sebenarnya biasa saja khan mereka bicara seperti itu? Orang kaya.. tapi bagi kita yang biasa-biasa, mendengarnya gimana gitu, mau beli mobil seperti beli pisang goreng saja, tinggal cari recehan. Sempat bengong tidak percaya katanya. Setelah kejadian itu bu Alvi malas pergi ke sana lagi.

Yang membuat mata bu Alvi berkaca-kaca sambil bercerita adalah ketika dia ikut pengajian, penceramahnya cerita tentang seorang penggali kubur yang hanya memiliki sebuah cangkul selama hidupnya. Suatu hari, ketika para pelayat kubur meninggalkan tempat itu, 7 langkah setelah mereka pergi, malaikat datang lalu menginterogasi si mati. Kebetulan penggali kubur itu tidak sengaja mendengarnya. Rupanya malaikat bertanya kepada si mati apa saja yang telah dia lakukan di dunia ini? Seluruh anggota badannya dipakai untuk apa? Apakah dipakai untuk beribadat kepada Allah? Lalu apa saja yang dia punya di dunia ini? Apakah dipakai di jalan Allah? Semua harus dipertanggung jawabkan. Si penggali kubur itu menangis terisak-isak saking bahagianya. Karena dia tidak punya apa-apa dan pertanggungjawaban kepada Allah pun tidak banyak, hanya sebuah cangkul saja. Itupun dipakai untuk menggali lubang kubur bagi orang yang meninggal.  Duh merinding saya mendengarnya…

Terimakasih ya bu Alvi, cerita ini telah mengingatkan saya, bahwa apapun yang saya miliki baik besar atau kecil nantinya akan dipertanggungjawabkan. Kalau kita berlebih mestilah berbagi dengan orang yang membutuhkan. Harta kita memang ada di tangan kita tapi hakekatnya bukan semua milik kita. Ampuni hambaMu ya Allah, apabila selama ini hamba terlalu membazirkan sesuatu untuk diri hamba sendiri.

Malamnya datang Taher, Yanti dan anak-anaknya dari Kuantan. Sudah lama tidak bertemu mereka. Sekarang sudah dikaruniai 3 orang anak, 2 laki-laki dan si bungsu perempuan. Yanti dan Taher adalah orang Minang, mereka menyelesaikan S3 di UTM dan sekarang dua-duanya menjadi dosen di Universiti Islam Antar Bangsa Kuantan. Alhamdulillah nampaknya mereka senang, dari segi materi lebih dari cukup, mobilnya saja Toyota Vios baru, seperti yang saya tabrak tempo hari. Mereka banyak cerita dan mengiming-imingi agar kami pindah ke Universitas mereka. Selain perlu orang, fasilitas dan benefit dari universitas sangat menggiurkan. Wah….wah terimakasih Yanti dan Taher ya, atas segala informasinya, nanti deh kalau ada kesempatan dan rezeki, tidak akan lari kemana. Sampai-sampai Afifah termimpi-mimpi lho mendengar cerita Yanti ini. Yanti dan Taher main juga ke rumah pak Ihwan dan Afifah, ceritanya sama seperti cerita pada kami. Jadi deh kita nanti buat pemukiman baru di Kuantan. Kapan? tak tahu lagi…

Jadi begitulah ceritanya, ada tamu membawa rezeki. Rezeki bukan berupa materi saja, tetapi ilmu dan kebahagian. Terimakasih ya…. (Maaf ceritanya tentang mobil ke mobil saja, habis itu kenyataannya, diumpamakan oleh apa coba yang terlihat oleh mata?).   


Leave a Reply